Novena Kanak-Kanak Yesus

Keajaiban Doa Novena Kanak Kanak Yesus dan Doa Mujizat

Keajaiban Doa Novena Kanak Kanak Yesus dan Doa Mujizat Mari kita bersama mendoakan Novena Kanak Kanak Yesus dalam menyambut kelahir...

Kamis, 11 Februari 2016

Retret Batin di Masa Prapaskah - "Bread" For Soul


Sahabat terkasih dalam Kristus.

Mengisi masa mulia Pra Paskah dengan Retret batin. Namun Retret Batin ini juga bisa digunakan untuk bahan permenungan harian (tidak hanya pada saat Masa Prapaskah, agar kita lebih mengenal dan mengasihi Yesus, Sang Penyelamat kita)

Retret batin berupa doa di setiap harinya (pagi atau sebelum tidur), disertai dengan permenungan ttg firman2 Tuhan.

Dengan metode meditasi kitab suci dg langkah2:

* Persiapan sebelum doa: masuk keruang yg hening, turn off HP atau TV atau alat elektronic lain, katakan kpd keluarga bhw kita akan berdoa agar tidak diganggu, menyalakan lilin. Lalu heningkan hati dan fikiran dg menarik nafas dalam bbrp kali. Sadari kita akan berdoa dan bermeditasi doa. Siapkan kitab suci dan ayat atau bacaan pd hari itu (God's message yg saya kirimkan).

1. Doa pembukaan (syukur, permohonan ampun dan mohon rahmat untk tekun, komit dan fokus berdoa). 

Ada baiknya ditambahkan dg melantunkan lagu pujian, walau didalam hati agar kita menyadari betul bahwa kita sedang datang kpd Tuhan dan bertemu Tuhan dalam doa kita)

2. Membaca Firman Tuhan yg diberikan pd hari itu (God's message), perlahan dan diresapi setiap kataNya.

3. Membaca ulang firmanNya dan temukan ayat special yg Tuhan berikan bagi kita, dan jadikan ayat tsb "rhema = bergaung berulang2 dlm hati atau fikiran" bagi kita. (bisa dicatat untk kita baca kembali)

4. Fikirkan, bayangkan dan rasakan ayat2 tsb, seolah kita ada didalam kisah tsb dan rasakan bhw saat kita membaca ayat2 tsb, itulah saat Tuhan berbicara pada kita

5.  Bercakap cakap dengan Tuhan (sampaikan segala hal, syukur, pujian, keluh kesah, masalah, permohonan, keinginan, harapan, dll, bercakap cakap seperti dg sahabat)

6. Hening sejenak meresapi perkataan Tuhan melalui firman yg barusan kita baca.

7. Hening, lepaskan sgala fikiran, prasaan (tidak mengingat apa2, tidak berfikir apa2, diam hanya memandang Tuhan saja), disaat ini, kita diam menanti Tuhan hadir dan mencurahi dg rahmatNya.

8. Hening, menikmati hadirat Tuhan dan mendengarkan suara dan pesan Tuhan.

9. Doa syukur, permohonan dan penutup.

10. Mencatat pengalaman rohani yg baru saja terjadi atau perkataan yang kita dengar saat doa tadi.

(suara Tuhan: adl jika ada suara kebaikan yang bergaung di hati, yg membuat hati terasa damai dan sukacita. Dan meneguhkan kita untk mjd pribadi yg lebih indah dan mendekatkan kita kpd Tuhan. Juga suara yang mengarahkan kita untuk mengambil langkah demi langkah yg baik agar tercapainya sebuah harapan atau permohonan doa).

Selamat menimba dan menerima segala kasih, pengampunan, kekuatan, pemulihan, sukacita, damai sejahtera, pertolongan, jawaban doa, jalan keluar, keselamatan, hidup baru, bahkan mujizat melalui Retret batin ini. 

Matius 6: 33: "Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" Amin = 

Saya akan share ayat2 yg aku dapatkan ya, smg teman2 juga bisa sediakan waktu teduh barang sbentar bersama Tuhan.


*******************************
Melanjutkan sharing saya mengenai Retret Batin, mohon diterima dibawah ini, bahan permenungan Retret Batin di Masa Prapaskah (hari 1 s/d hari ke 40. Semoga memberkati).


Hari 1 (Rabu abu, 10 Feb): 

God's message:
Yoel 2:12-14,  Mazmur 51:3-19. 

(Korban silih hari 1:
Menyadari bhw kita hanyalah abu yg akan kembali mjd abu, rapuh dan lemah, mempersembahkan pertobatan sejati dan total kpd Allah yg disertai dg tanda pertobatan dalam perbuatan nyata. Melepaskan pengampunan bagi diri sendiri dan org lain. Mohonkan rahmat agar dimampukan mjd pribadi yang lebih baik dan indah bagi Tuhan dan sesama. 

Menyatakan niat: melepaskan 'manusia lama yg terbelenggu dlm keberdosaan' dan menjalani hidup dgn mengenakan manusia baru yg telah diampuni, ditebus, dimurnikan dan dibenarkan oleh kasih karunia Allah')

Hari ke 2 (Kamis, 11 Feb): 

God's message:
Matius 16:21-27, Ulangan 28:1-14, Yohanes 15:1-12

(Korban silih hari ke 2: berdoa untk keluarga yang sdg menderita atau bermasalah, jika bertemu dg mreka atau bisa menelpon mereka maka sampaikan perkataan dukungan dan harapan)

Hari ke 3 (Jumat , 12 Feb) : 

God's message:
Yesaya 58:1-12, Mazmur 51:3-19, Matius 9:14:17

(Korban silih hari ke 3: mempersembahkan puasa atau pantang, mendoakan orang2 yg miskin dan terlantar, berbagi kasih (makanan, rejeki) kepada orang miskin yg kita temui hari ini)

Hari ke 4 (Sabtu, 13 Feb): 

God's message:
Yesaya 58: 9-14, Mazmur 86:1-6, Lukas 5:27-32.

(Korban silih hari ke 4: 
menjaga (memurnikan) fikiran, hati, sikap dan perkataan dari segala kejahatan: fikiran negativ, niat tidak baik, hati yg keras, sikap sinisme, kata2 kasar, sikap egoisme atau menghakimi org lain. Menghentikan kesemua hal tsb yang slm ini menyakiti diri sendiri dan orang lain. 

Penuhi hati, fikiran, kehendak, sikap dan perkataan dgn kasih, kebaikan2 dan hal positive. Jadilah pembawa kasih dan berkat bg org di sekitar kita. Jika kita belum dimampukan mjd pembawa berkat, mk kuasailah diri agar tidak mjd pembawa masalah atau kesakitan bg org lain.

Persembahkan permohonan maaf dan doa bg mreka yg tersakiti oleh sikap dan perkataan kita. Dan ampuni mereka yang pernah menyakiti kita. Mohon rahmat Tuhan agar kita dimampukan belajar mjd 'serupa dg gambaran Tuhan yg penuh kasih, kebenaran dan kebaikan')

Hari ke 5 (Minggu 1, 14 Feb):

God's message:
Ulangan 26: 4-11, Mazmur 91:1-16, Roma 10:8-15, Lukas 4:1-13

(Korban silih hari ke 5:
Menyadari dan mensyukuri atas iman yg Allah berikan melalui Yesus Kristus. Melalui iman kita dibenarkan dan diselamatkan. Melalui iman, kita menerima segalanya yg dari Allah, bagi kebahagiaan dan keselamatan jiwa dan raga kita.

Menghidupkan kembali iman kita terhadap Kristus. Menghidupkan berarti: percaya, berserah, mencari, menemukan dan tinggal sepenuhnya didalam Kristus. 

Memikirkan, merasakan, apakah kita sungguh membutuhkan & menyertakan Tuhan dlm sgala keadaaan kita?, sudah menjadikanNya sbg pusat dlm kehidupan kita? Apakah sudah berjuang melepaskan sgala hal (keduniawian, kejahatan, keegoisan, keberdosaan, dll) demi berusaha mjd jiwa yg layak bg Tuhan?

Beribadah Minggu dan berkomitmen: mulai hari ini akan mengisi kebersamaan bersama Tuhan lebih intim lagi, dlm doa, kerinduan, rasa syukur, pertobatan, permenungan dan perbuatan kasih. Juga mulai hari ini berjuang untk mengendalikan diri untk tidak jatuh lg kedalam dosa yg sama atau yg baru, adl persembahan yg terindah bg Tuhan).

Hari ke 6 (Senin, 15 Feb):

God's message:
Imamat 19: 1-4 + 11-18, Mazmur 19: 8-15, Matius 25: 31-46

(Korban silih hari ke 6:
"Mercy and Compassion: Pengampunan dan Belas kasih". 

Menyadari bahwa Allah adl Kudus. Maka hendaknya kita berusaha tinggal dlm kekudusan (menjaga diri tdk jatuh lg kedalam dosa setelah kita menerima pengampunan), agar tidak lagi ada penghalang bagi kita (dosa, ke-aku-an) untk layak datang kpd Allah dlm penghormatan.

Menyadari bhw Allah adl Pengampun, maka hendaknya dlm kerendah-hatian, kita selalu datang kpd Allah menyadari siapa kita dan memohon pengampunan, meminta maaf kpd orglain, sembari terus melepaskan pengampunan untk org lain.

Menyadari bhw Allah adl Kasih, maka hendaknya hidup dan diri kita mjd 'pancaran kasih Allah' dlm sgala hal yg kita lakukan dan katakan. Jadikan kasih sbg dasar, sbg bekal, sbg alat, sbg arah dan tujuan, dalam kehidupan kita. Menjalani hidup dalam "keseimbangan kasih" : kepada Allah, kepada sesama dan kpd diri kita sendiri.

Berbelas kasih kepada sesama, terlebih kpd keluarga dan juga kpd mreka yg terluka atau berkekurangan, dg melakukan tindakan kasih melalui pemberian yg ada pada kita (senyuman, sikap baik, perkataan baik, perbuatan kasih, pemberian - waktu, tenaga, doa, perhatian, materi -; yg kesemuanya berbalut kasih).

Melakukan kesemua bagian kita tsb agar kita dilayakkan menjadi "domba" yg akan diletakkan di sebelah kananNya (Matius 25: 33-40)

Hari ke 7 (Selasa, 16 Feb):

God's message:
Yesaya 55:1-13, Mazmur 34:1-22, Matius 6:1-24

(Korban silih hari ke 7:
"Mercy and Trust: Belas Kasih dan Kepercayaan"

“Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”

Menyadari bahwa selalu ada ‘undangan’ bagi kita untuk kembali kepada Allah, untuk kembali ke rangkulan kasihNya, untk kembali percaya sepenuhnya dan berjalan di jalan2Nya.

Kasih setiaNya tidak pernah berubah, kedekatanNya pada kita tidak pernah berajak.  Walau disaat kita melupakanNya, tidak ada waktu bagiNya, bahkan  meninggalkanNya, namun Allah tetap dekat dan setia menanti kita.

Menyadari bahwa kita yang lemah, berdosa dan tidak layak, bahkan yang berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu, namun sungguh diberikan anugerah istimewa atas ‘undangan penuh belas kasih’ ini. Siapakah kita jika terus tak peduli, angkuh atau terlalu sibuk untuk menjawabNya. Walau Allah tidak berubah, namun waktu terus berjalan dan ada masanya.

Memberi diri untuk menanggapi ‘undangan’ Allah dengan ketulusan dan kerinduan, lalu memulai melakukan pemurnian dengan olah diri:

1.      Olah ‘Rohani’: mengheningkan jiwa, lalu melangkah datang kepada Allah dengan kerendahan hati untuk bertobat, bersera h diri, mengandalkan Allah dlm sgala hal, ber-komitmen untuk tulus membina hubungan baik dalam doa dan permenungan akan firman Allah, dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus.

2.      Olah “Tubuh/Raga”: mengheningkan tubuh/raga, lalu memurnikannya dengan melepaskan diri dari segala keinginan daging dan keterikatan keduniawian. Disertai dgn menahan diri dalam pantang atau puasa, serta mengisi diri dengan melakukan tindakan kasih yang nyata dalam sikap, perkataan dan perbuatan.

Menguasai diri untuk tetap tinggal didalam Allah walaupun di tengah-tengah segala kesibukan atau kebisingan hidup. MenjadikanNya prioritas dan tidak membiarkan Allah tergeser lagi oleh apapun. Sepenuh percaya, bahwa, bagi kita yang menanggapiNya dengan kasih, maka Allah turut bekerja dan menyediakan segalanya untuk mendatangkan segala kebaikan bagi kita.

Hari ke 8 (Rabu, 17 Feb):

God's message:
Yunus 3:1-10, Lukas 11:28-36, Galatia 5:16-26

(Korban silih hari ke 8:
"Mercy & Conversion: Belas kasih & Perubahan"

Menyadari bahwa diri kita terdiri dari jiwa, raga dan roh. Raga adl fisik ('kedagingan') kita. Jiwa adl yang memberi gerak pada raga. Dan roh yang menghidupkan, mengarahkan, mengisi, dan mengendalikan jiwa dan raga itu.

Seperti sebuah handphone: raga adl fisik barangnya, jiwa adl software yg menggerakkannya, dan roh adl chip (simcard) yang menghidupkan, memimpin dan mengarahkan penggunaannya.
Menyadari bahwa kita hendaknya selalu mengasihi dan berbelas kasih kepada diri kita, berdamai dgn diri kita (dlm jiwa, raga dan roh kita), spt Allah yg mengasihi kita dan menerima kita apa adanya.

Menyadari bhw Allah adl Roh. Bagi kita org percaya, Roh yang ada pada kita telah bersatu dgn Allah dalam Roh KudusNya. Maka hiduplah dalam pimpinan dan arahan Roh. 
Roh memang penurut namun daging adl lemah. Keinginan atau perbuatan daging adl maut (Galatia 5:19-21).

Maka hidupkan kembali Roh Kudus didalam kita, agar Dia mengambil alih, mengendalikan dan menguasai seluruh gerak jiwa dan raga kita. Serta akan mengendalikan dan mengubahkan kita, serta memampukan kita menghasilkan Buah RohNya.
Buah Roh adl hasil dari manifestasi Roh Allah yang menyatu didalam kita. Buah Roh adl karakter Allah.

Buah Roh adl 1 Buah Roh yg memancarkan 9 karakter yaitu Kasih, damai sejahtera, sukacita, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kelemah lembutan, kesetiaan, pengendalian diri.

Merenungkan, apakah kita sudah hidup didalam Buah Roh yg membawa kita ke hidup penuh damai sejahtera dan keselamatan, atau sebaliknya slama ini kita hidup didalam kedagingan kita yang membawa kita pada maut dan kematian kekal? 

Buah Roh yang manakah yang sudah kita hasilkan atau ingin kita hasilkan?

Hari ke 9 (Kamis, 18 Feb):

God's message:
Esther 4:1-16, Mazmur 138:1-8, Matius 7:7-12

(Korban silih hari ke 9:
"Mercy and Supplication: Belas kasih dan Permohonan doa"

Menyadari bahwa segala yang ada dalam kehidupan kita, adalah dari Allah, oleh Allah dan karna kemurahan Allah. Segala yang boleh kita terima dan nikmati, adalah atas perkenanan Allah, bahkan nafas hidup kitapun adalah pemberian Allah.

Menyadari bahwa kita harus semakin bersyukur atas segala yang ada pada kita, menjaga dengan kasih segala yang Allah berikan bagi kita, dan tekun menempa kerendah-hatian di hadapan Allah. Karna semua yang ada pada kita, bukanlah karna kuat gagah kita, namun karna kemurahan dan kasih Allah bagi kita, kita boleh menerima kehidupan yang dihidupkanNya dengan kasih setiaNya.
Menyadari bahwa Allah selalu ada bersama kita, setia menantikan kita dan selalu menjawab segala seruan doa (permohonan) kita. Seperti Esther dan Daud yang  berseru didalam kesesakan, mereka bersujud memohon dalam kerendah-hatian, sepenuh jiwa mengandalkan Allah, dan sepenuh kasih mempercayakan segalanya. Dan mereka menerima jawaban Allah atas segala doa yang mereka panjatkan.

Demikian kita, datanglah kepada Allah, dalam segala apapun yang sedang kita hadapi, dalam suka bahkan dalam duka dan kesesakan: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah , maka pintu akan dibukakan bagimu…… Bapamu yang di sorga, Ia akan memberikan yang baik  kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Menyadari, ada bagian yang harus kita lakukan sembari menanti segala jawaban yang pasti akan kita terima, yaitu: percaya dan lakukan bagian kita dengan yang terbaik sambil terus bersyukur dalam sukacita, ingatlah bahwa Allah lakukan yang selebihNya bagi kita.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka….. Maka, Allah akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!”

Hari ke 10 (Jumat, 19 Feb):

God's message:
Yehezkiel 18:21-28, Mazmur 130: 1-8, Matius 5:20-30

(Korban silih hari ke 10:
"Mercy and Reconsiliation : Belas kasih dan Berdamai kembali"

Menyadari bahwa Allah menghendaki kemurnian hati dan diri kita, sbg persembahan diri kita yg murni. Kemurnian yang terwujud dalam kesamaan atas perkataan, sikap dan perbuatan kita yang selaras dengan kasih yang ada didalam hati kita. 

Persembahan yang murni adalah: Saat setelah kita menyatakan pertobatan, menerima pengampunan, lalu berusaha memberikan diri yg terbaik bagi Allah sebagai rasa kasih dan terimakasih kita kpd Allah. Persembahan diri yg terpancar dalam: saat berkata, berkatalah dari hati yang penuh kasih. Saat bersikap, bersikaplah dengan kasih. Saat berbuat, berbuatlah baik dan benar berbalut kasih. 

Menyadari bahwa tiada gunanya jika kita memberikan persembahan diri, namun masih ada fikiran tidak baik, masih ada niat yang jahat, masih ada perkataan yang sinis atau menyakiti, masih ada bibir yang bersungut2, masih ada tubuh yang penuh kelekatan dan kedagingan pada hal yg tidak baik, masih ada rasa marah pd oranglain, masih ada sikap yang menyakiti orglain, masih ada hati yang penuh rasa iri, dendam, kepahitan, dll. Dan kita masih saja kembali kepada segala hal tersebut. Menyadari bahwa segala hal ini adl: menyakiti keluarga dan sesama, mendukakan Allah, dan merusak diri kita sendiri.

Menempa diri untk terus berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan keluarga, berdamai dengan sesama dan yang terutama, berdamai selalu dengan Allah. Kembali kepada jalan Allah dan berubah dalam pembaharuan budi dan diri. Maka kita dimampukan memurnikan diri, hati dan hidup kita, yang akhirnya dapat memberikan persembahan diri yang murni bagi Allah. Disinilah kita bisa menemukan dan menikmati kebahagiaan sejati kita.

Hari ke 11 (Sabtu, 20 Feb):

God's message:

Ulangan 26: 16-19, Mazmur 119: 1-8, Matius 5:43-48

(Korban silih hari ke 11:
"Mercy and Love: Belas Kasih dan Kasih":
Menyadari bahwa Allah adalah kasih. Dalam segala PribadiNya, yang utama dan terutama, Allah adl Maha Kasih.

Menyadari bhw Allah menghendaki kita berjalan didalam segala ketetapan dan ajaran kasihNya. Dan melakukan segalanya itu dengan segenap hati dan jiwa kita. KetetapanNya yg selalu menuntun kita agar tak tersesat dan ajaran kasihNya yg akan menjadikan kita serupa dalam gambaranNya, terlebih dalam hal kasih.

Menyadari bahwa kepada kita yang taat berjalan didalamNya, maka kita berada didalam Allah dan Allah ada di dalam kita. Allah menjadi Bapa kita, dan kita menjadi anak-anakNya. Anak-anakNya yg dikuduskanNya, diangkatNya agar menjadi terpuji, terhormat dan layak menerima janji2 Allah.
Menyadari bahwa Allah menghendaki kita menjadi perwakilan kasih Allah bagi dunia dan sesama dalam kasih yang beda. Yaitu kasih yg istimewa yang bahkan mampu mengasihi mereka yang jahat dan menyakiti kita. 

Karna hanya dgn kasih, maka segala kejahatan, kelemahan, kepahitan, kebencian, kelekatan dunia, dll, bisa dikalahkan dan kita menang atas sgalanya itu.

Kasih yang berbalut: pengampunan, pengertian, kerendah hatian, empati, kehendak baik, kemurahan, kesabaran, kelembutan dan kebahagiaan.

Kasih yang mampu mengubahkan kejahatan menjadi kebaikan, kelemahan menjadi kekuatan, kepahitan menjadi damai sejahtera, kekalahan menjadi kemenangan, kebencian menjadi cinta dan kebinasaan menjadi kebahagiaan kekal.

Hari ke 12 (Minggu, 21 Feb):

God's message: Kejadian 15:5-18, Mazmur 27:1-14, Filipi 3: 17-21

(Korban silih hari ke 12:
"The Lord day, a day of Mercy:Hari Tuhan, hari belas kasih"

Menyadari bahwa Allah beristirahat di hari Sabat, hari ke 7. Allahpun menghendaki kita untk "beristirahat" di hari Sabat, yg kita kenal sbg hari Minggu. Beristirahat dalam arti: menarik diri sejenak dari ke-aku-an, kesibukan dan kebisingingan keseharian, untk masuk ke dalam keheningan bersama Allah, dalam doa, bersaat teduh dan ibadah. Untuk menanggapi kasih dan kerinduan Allah untk bersekutu dg kita.

Menyadari bahwa kini saatnya kita kembali mencari dan menemukan Allah, setelah sekian lama kita menomor-sekiankanNya setelah sgala urusan hidup kita yg tidak ada habisnya. 

Merasakan bahwa hanya di saat kita hening didalam dan bersama Allah, maka hubungan indah antara Bapa dan anak, akan terjalin intim, sehingga curahan belas kasih, rahmat, berkat, kasih karuniaNya, dapat kita terima. Juga sapaan dan arahanNya, mampu kita dengarkan. Sehingga kita menjadi pribadi yang lebih indah bagi Allah dan sesama.

Menyadari bahwa kita yang telah dipilih, dibenarkan, ditebus dan diselamatkan, oleh kasih karunia Allah, kita haruslah hidup didalam dan meneladan Yesus Kristus. Teladan yg menjadikan kita berbeda dgn manusia duniawi yang hanya menghabiskan waktu dan hidupnya untk kesibukan, pekerjaan, kepenuhan, ke-aku-an, kesemuan, kefanaan dan kepalsuan diri sendiri.

Membuka hati kita sepenuhnya untk menerima undangan Allah dalam diri Yesus Kristus, dan menanggapi undanganNya untuk dgn rendah hati untk datang kepada Allah dalam segala yg terbaik yang bisa kita berikan, juga dalam doa dan perbuatan kasih yang nyata.

Hari ke 13 (Senin, 22 Feb):

"Yesus, the merciful face of The Father: Yesus, Wajah Kerahiman Allah Bapa".

God's message: 1 Petrus 5:1-11, Mazmur 23:1-6, Matius 16: 13-19

Menyadari bahwa Allah Maha Rahim, Dialah Yang terus mencurahkan belas kasih dan belas kasihanNya bagi seluruh manusia. Kesemua ini adalah karna Allah terus bekerja untk mengembalikan kita kepada rancangan kasihNya yg semula, yaitu hidup beserta kita, dalam kasih sejati, di bumi hingga di surga, hidup bersama Allah selama2nya dalam damai sejahtera. 

Memahami bahwa rancangan tersebut terganggu oleh segala dosa dan keduniawian yang terjadi pada manusia, yg akhirnya memisahkan manusia dari kasih Allah.

Menyadari bahwa belas kasihNya tiada berubah, hingga Allah menyatakan belas kasih terindahNya melalui diri Yesus Kristus.

Memahami bahwa demi menebus, memberika kehidupan sejati dan menyelamatkan manusia, Yesus rela menderita sampai wafat di salib. Melalui Yesus, manusia yg sebelumnya terpisah dgn Allah krn dosa dan keduniawian, kini telah kembali diperdamaikan dgn Allah, kita kembali masuk dalam Kerahiman Allah.

Menyadari bhw Yesus telah mencurahkan kasih yg sehabisnya bagi kita, Dia juga yg telah memilih kita menjadi domba2Nya, (banyak yg terpanggil namun sedikit yg dipilih). Maka, hendaknya kita yang dipilih, harus melekat dan meneladan Yesus sbg Gembala bagi kita.

Meneladan Yesus dalam kepercayaan, kerendah-hatian, kasih, rela berkorban, ketaatan, kebenaran, ketulusan, ketergantungan, keberserahan diri, memberi diri yang terbaik, kemurahan hati, kesabaran; (seperti anak yg sayang kepada bapanya, yg ingin hidup menyenangkannya), maka akan membawa kita kepada rancangan Allah yg semula, yaitu kehidupan yang damai sejahtera di bumi hingga di surga.

Dan kehidupan ini hanya dapat kita raih melalui kebersamaan intim kita bersama Yesus, Sang Gembala kita, yg juga adalah Wajah Kerahiman Allah Bapa. Sumber segalanya bagi kehidupan kita yang berkelimpahan, di bumi hingga di surga. 

Sbab: "Tuhanlah Gembalaku, tak kan kekurangan aku."

Hari ke 14 (Selasa, 23 Feb):

God's message: Yesaya 1: 16-20, Mazmur 50:7-23, Matius 23: 1-12

(Korban silih:
"Persembahkan yang terbaik bagi Allah"

Menyadari bahwa satu-satunya 'tempat pelarian terakhir' yang terbuka luas bagi manusia dan pendosa untuk 'kembali' dan menerima pengampunan dan keselamatan adalah: Kerahiman Allah. Kerahiman Allah yang tercurah didalam diri Yesus Kristus, yang kita peroleh melalui curahan darahNya, sengsara dan wafatNya.

Memahami bahwa bagi siapa saja yang memilih masuk kedalam pintu Kerahiman Ilahi, maka tidak akan ditolak. Bagi siapa yang berlari pada Kerahiman Ilahi, ia menerima pengampunan, kehidupan dan keselamatan di bumi hingga di surga.

Menyadari ada bagian kita yang harus kita lakukan dan berikan agar kita boleh tetap tinggal didalam KerahimanNya.

Yaitu persembahankan yang terbaik dan layak bagi Allah, melalui hidup dan segala yg ada pada kita, agar hidup kita berkenan kepada Allah. Melalui pertobatan sejati, sikap, perkataan, perbuatan kita yang seturut dengan ajaran kasih dan kehendak Allah.

“…..supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:1-2)

Hari ke 15 (Rabu, 24 Feb)

God message: Yeremia 1: 1-20, Mazmur 31: 1-24, Matius 20: 17-34

(Korban silih hari ke 15:
"Humility, the part of Mercy: Kemanusiaan adl bagian dari belas kasih".

Menyadari bahwa Yesus, Sang Putra Allah, datang ke dunia, menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba, sepenuh kerendahan hati datang kepada kita untuk melayani. Ia tidak mengenakan segala atribut ke-IlahianNya, namun dengan kesederhanaan dan kesahajaan, Yesus menyelesaikan dan menggenapi tugas perutusanNya sebagai jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Yesus datang untuk melayani kita dan kesemuanya berbalut kerendahan hati & belas kasih. Yesus, Putra Allah yang memiliki dan menguasai alam semesta raya, memberikan nafas hidup bagi kita, memberikan segala milikNya menjadi kepunyaan kita, serta menopang alam semesta dan juga kehidupan kita, namun Ia berkenan merendahkan hati demi mengasihi kita. Kemanusiaan Yesus sungguh berbalut belas kasih sejati.

Merenungkan, akankah kita yang hanya manusia lemah, mau belajar untuk merendahkan hati kita di hadapan Allah dan sesama? Mau mengisi jiwa dengan rasa kasih sejati kepada Allah dan berbelas kasih kepada sesama?

Merendahkan hati dalam penyadaran diri bahwa kita tanpa Allah adalah bukan siapa-siapa, tak berdaya apa-apa, bahkan hidup kitapun adalah atas perkenananNya dan kemurahanNya. Bahkan ‘hanya debulah aku’, debu abu yang dijadikanNya berharga hingga kita ditebusNya dengan sengsara dan wafatNya.

Merenungkan, akankah kita masih sanggup untuk bermegah diri dan menyatakan bahwa kita terlalu sibuk untuk Allah, tidak membutuhkan Allah, masih menomor-sekian-kan Allah dalam daftar di hidup kita, masih berkata bahwa segala yang ada padaku adalah milikku dan hasil usahaku sendiri, dan merasa bahwa yang penting adalah diriku, keluargaku, pekerjaanku, harta milikku, kesenanganku, kehendakku, kekuasaanku, ketenaranku; namun bukan Allahku? Lalu aku melekatkan segala adaku pada semua itu tapi bukan kepada Allahku?

Melakukan langkah iman dengan datang kepada Allah dalam pertobatan sejati dalam kerendahan hati, dan mohon belas kasih Allah tercurah bagi kita. Lalu menyatakan kasih sejati kita kepada Allah dan berbelas kasih kepada sesama dalam tindakan kasih kita yang nyata kepada sesama. Menghidupkan sisi kemanusiaan kita dgn balutan belas kasih. Maka kita layak menerima rahmat, kasih, pertolongan, kebahagiaan, keselamatan yang dari Allah.

“Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku, dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.”

Hari ke 16 (25 Feb):

God message's: Yeremia 17:5-10, Mazmur 1: 1-6, Lukas 16:19-31

(Korban silih hari ini:
"Mercy and happiness: Belas kasih dan kebahagiaan"


Menyadari bahwa hidup kita sepenuhnya berasal dari Allah, oleh Allah dan karna Allah. Semua yang ada pada kita berasal dari kasihNya, kesetiaanNya, karya tanganNya, kerinduanNya, kehendakNya, untk ingin terus bersama kita dan memberkati kita, dalam kebahagiaan sejati, di bumi hingga di surga.

Memahami bahwa kita yang lemah, kita yang rapuh, kita yang rentan, kita yang tak berdaya, kita yang tinggal di dunia yang seringkali melemahkan kita, haruslah menaruh diri sepenuhnya kepada Allah dan didalam Allah. Karna hanya Allah-lah Sumber yg bisa memenuhi segala aspek dalam kehidupan kita.

Hendaknya kita senantiasa memprioritaskan Allah (menyediakan diri dan waktu untk Allah), tinggal didalam Allah (bersekutu dalam doa, permenungan firmanNya dan ibadah), melakukan kehendak Allah (menjadi pelaku firman dan penyalur kasihNya bagi sesama), mengandalkan Allah (memandang, percaya, memohon, menanti, dan menerima yg dari Allah), dan menimba segalanya dari Sumber Segala bagi hidup kita, yaitu Allah sendiri. Itulah kebahagiaan sejati.

Memahami bahwa kita yg telah dipenuhi oleh Allah dlm sgala hal, maka hendaknya kita juga memenuhi sesama dgn berbagi kasih kepada sesama. Menyentuh sesama yang berkekurangan, yang miskin dan terlantar, yang sakit, yang dalam beban berat, yang membutuhkan pertolongan, yang tersesat, yang dalam kuasa gelap, yang terbelenggu kuasa dosa, yang haus dan lapar; sentuhlah mereka dengan kasih, dengan perhatian, dengan sapaan, dengan doa dan dengan damai sukacita yang berasal dari Allah.

Melakukan tindakan kasih:

Gunakan perkataan kita untuk kebaikan, telinga untk mendengar dan berbelas kasih, tangan untk memberi, niat dan fikiran untk kebenaran, dan hati untk mencintai. 

Sbab: "Apa yang kita perbuat bagi mereka yang paling menderita (membutuhkan), maka kita telah melakukannya untk Allah".

Hari ke 17 (26 Feb):

God's message: Kejadian 37:1-28, Mazmur 105: 1-22, Matius 21:33-46

(Korban silih hari ke 17:
"Mercy and Fraternity: Belas kasih dan Persaudaraan"

Menyadari bahwa Allah mengasihi seluruh umat manusia. Didalam Kristus, kasihNya nyata dan sempurna. KasihNya yang tidak terbatas, tidak berubah, dan tidak bersyarat.

Merenungkan bahwa hendaknya kita meneladan Allah dalam kasih, kasih yg bukan hanya untk diri kita sendiri, namun kasih dalam persaudaraan, kebersamaan. Kasih bagi sesama dan segala mahluk.

Merenungkan, apa gunanya kasih itu, jika hanya untk sendiri ? Pohon akan lebih berguna saat menghasilkan buah yang bisa dikecap kemanisannya. Demikian pula diri kita dan hidup kita, biarlah disaat menghasilkan buah, maka buahnya dapat memaniskan banyak orang lain.

Menghayati bahwa selama kita berada didalam kasih, maka Allah bekerja selebihnya bagi kita, agar menjadikan hidup kita sbg berkat bagi sesama, serta membentuk kita menjadi pribadi yang indah, yang akan meng-indahkan sesama.

"DijadikanNya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya" (Maz 105:21)

Hari ke 18 (Sabtu, 27 Feb):

God's message: Mikha 7: 14-20, Mazmur 103: 1-22, Lukas 15: 11-32

(Korban silih:
"Mercy and Sin: Belas kasih dan dosa"

Menyadari bahwa Allah yang Maha Rahim selalu memandang kita, bahkan saat kita 'membelakangiNya atau meninggalkanNya', Allah tetap tertuju pada kita dan tak pernah berubah dalam kasih setiaNya. 

Memahami bahwa kasihNya seperti bapa yang setia menanti anak bungsunya untk kembali pulang, dan saat anak tersebut kembali, maka pelukan dan airmata bahagia tercurah bagi anaknya. Bahkan segala kasih, kuasa, dan kehormatan diberikannya kepada anaknya yang kembali itu. Semua diberikan, tanpa bapanya harus lebih dulu marah, bertanya ataupun menghakimi.

Merenungkan betapa Allah selalu menanti kita untk kembali, karna begitu besar kasih dan kerinduanNya bagi kita. Saat kita terasa jauh dari Allah, kita yang memilih untuk memisahkan diri kita dr Allah karna kesibukan dan keduniawian kita. Bertanyalah, sampai kapankah kita akan berkeras hati untk hidup dalam kehendak kita, kekuatan kita, yang tanpa Allah hanya akan berakhir tidak bahagia dan sengsara? Dan kehidupan kita menjadi mati?

Menyadari, bahwa saat kita kembali kepada Allah dalam pertobatan dan perubahan budi dan diri, maka kerahimanNya tercurah dan memeluk kita, tak ada penghakiman hanya kasihNya yg tercurah. Bukan saja kita mendapat pengampunan atas dosa, namun kita akan diangkat menjadi anak2 Allah yang dikuduskan dan diberikan segala kasih, kuasa, kehormatan, rahmat, anugerah, karunia dan keberkahan di bumi hingga di surga. Bahkan RohNya diberikan bagi kita dalam Roh Kudus. Dan seluruh surga bersukaria dan mengirim nyanyian berkat bagi kita.

"Lekaslah bawa kemari jubah terbaik, pakaikanlah itu kepadanya, kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pd kakinya..... sbab, anakku tlah mati dan kini mjd hidup kembali, tlah hilang dan didapat kembali. Maka mereka bersukaria" (Lukas 14:22-24)

Hari ke 19 (Minggu, 28 Feb):

God's message: Keluaran 3: 1-15, Mazmur 103: 1-22, 1 Korintus 10: 1-13

(Korban silih:
"God's mercy and tenderness in our difficult time: Belas kasih dan kelemah lembutan Allah dalam masa-masa sulit (penderitaan) kita"

Menyadari bahwa Allah adalah kasih. Didalam Yesus, kita telah menerima kasih yang sempurna. Kasih Yesus bagi yang bahkan melebihi dari hidupNya sendiri. Hingga karna kasihNya, Dia rela menanggung sengsara dan wafat demi menebus dosa dan menyelamatkan kita.

Menyadari bahwa dunia memang telah jatuh, tak seindah saat pertama Allah menciptakannya. Itu karna betapa kejahatan manusia, dosa dan iblis telah sangat merusaknya. Hingga kitapun harus menanggung segala konsekweksi yang kita rasakan melalui beban dan kesulitan hidup kita, yg seringkali membuat kita menderita.

Merenungkan bahwa penderitaan itu memang ada dan tidak dapat terhindari. Penderitaan yg harus kita tanggung karna akibat (konsekwensi) perbuatan dosa kita sendiri, karna sakit penyakit, karna kelemahan kita, dan bahkan orang benar juga harus menderita akibat kejahatan orang lain terhadapnya. Dibalik semua itu, iblis turut bekerja untk membuat manusia semakin menderita.

Memahami bahwa Allah selalu ada dan menyertai kita disaat kesulitan dan penderitaan yg kita alami. Allah berkehendak agar hidup kita kembali pulih, sembuh dan murni; dan Allah bekerja melakukan bagianNya untk kebaikan kita. Namun ada bagian kita yang harus kita lakukan untk mengiringi Allah dalam bekerja untk kesembuhan dan pemulihan hidup kita. Diiringi dg penyerahan diri dan percaya bahwa Allah mengampuni, mengasihi kita dan sanggup memulihkan serta memberi jalan keluar terbaik.

Merenungkan bahwa bagian kita adalah "kembali sepenuhnya kepada Allah". "Kembali" dalam pertobatan sejati yg disertai perubahan budi dan diri. "Kembali" dg tindakan iman untuk: berbalik dari manusia lama kita yang jahat dan berdosa, memberi hidup intim bersamaNya, memberi diri taat pd ajaranNya, merendahkan hati unt menerima dan menjalankan didikanNya, menundukkan diri agar Allah dapat membentuk kita mjd bejana indahNya, serta sepenuh hati percaya dan penyerahan diri, agar hidup kita menjadi sebuah keindahan bagi namaNya. 

Segala perubahan dan pemulihan akan dimulai dari diri kita, yaitu saat kita mengampuni, mengasihi dan menerima diri kita apa adanya, dan "kembali sepenuhnya", serta mempercayakan Allah yg mengubah kita mjd baru dan lebih indah.

Maka kita boleh berseru:

"Pertolonganku adl dari Allah, yang merubah segala keburukan mjd kebaikan bagiku. Dialah yg mengampuni segala kesalahanku, yang menyembuhkan segala sakitku. Dialah yg menebusku dari lubang kubur, yg memahkotaiku dgn kasih setia dan rahmat. Dia yg menjadikan hidupku baru seperti burung rajawali

Maka: "Pujilah Tuhan hai jiwaku..."

Hari ke 20 (Senin, 29 Feb):

God's message: 2 Raja Raja 5: 1-15, Mazmur 42: 1 - 11, Lukas 4: 24-30

(Korban silih hari ke 20:
"Mercy and purification by each one of our daily acts : Belas kasih dan pemurnian terhadap setiap tindakan (sikap perbuatan) kita"

Menyadari bahwa dalam kehidupan, Allah-lah yang menjadi jawaban bagi segala kebutuhan kita. Dalam segala hal, saat kita datang kepada Allah, maka disitulah kita mendapat jawaban, menemukan jalan dan menerima pertolongan. KasihNya yg ajaib dan kuasaNya yg besar, akan membuatNya mampu memberikan yang terbaik, bagi kita yang mengasihi Allah.

Merenungkan, apakah kita termasuk golongan yang mengasihi Allah, sehingga kitapun layak menerima segala kasih dan kuasaNya atas hidup kita.

Meneguhkan diri untk menjadi pribadi yang mengasihi Allah dgn terlebih dulu memurnikan diri kita, sikap dan tindakan kita, juga hati dan perkataan kita untk selaras dgn kehendak dan jalan kasihNya; agar saat kita datang kepada Allah, maka belas kasihNya tercurah bagi kita tanpa penghalang.

Saat hati kita memurnikan diri untk selaras dg hati Allah, hidup kita berkenan kpd Allah, maka kita dimampukan berseru:

"Sperti rusa yg merindukan sungai yg berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau ya Allah.... Hai jiwaku, berharaplah kepada Allah, sbab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku."

Hari ke 21 (Selasa, 1 Maret 2006)

God’s message: Daniel 3: 23-30, Mazmur 25: 1-22, Matius 18:21-35

(Korban silih hari ke 21:
“Mercy and forgiveness: Belas kasih dan pengampunan”


Menyadari bahwa manusia penuh kelemahan, tak ada yang sempurna, dan Allah yang Maha Sempurna, telah mengampuni dan menerima kembali setiap kita yang kembali kepadaNya dengan hati yang tulus. Seberapa kalipun kita meninggalkan Allah, namun saat kita kembali, Allah tetap menerima kita apa adanya dengan hati yang penuh kasih dan mengampuni kita.

Merenungkan bahwa awal dan dasar dari sebuah pemulihan, kesembuhan bahkan hidup baru, adalah dimulai saat kita meminta, menerima dan memberi pengampunan. Sebelum kita meminta dan menerima pengampunan, maka dosa dan segala hal yang melemahkan akan tetap ada pada kita. Sebelum kita memberi pengampunan, maka luka, kesedihan, kebencian, dendam, akan terus menekan jiwa kita.

Namun saat kita meminta dan menerima pengampunan, maka jiwa dan hubungan kita dgn Allah akan dipulihkan, sehingga kita kembali hidup didalam kasih dan damai sejahtera yang dari Allah. Saat kita memberikan pengampunan, maka segala luka tersembuhkan, kesedihan berubah menjadi sukacita, kebencian menjadi kasih, dan jiwa terisi dengan damai sejahtera dan pengharapan.
Merenungkan, apakah kita sudah mengampuni diri kita sendiri, Allah yang menjadikan kita berharga, apakah kita juga sudah menghargai diri kita sendiri dengan kasih & pengampunan? Apakah kita sudah meminta dan menerima pengampunan dari Allah dan juga maaf dari orang-orang yang kita sakiti? Apakah kita sudah memberikan pengampunan kepada orang lain, pengampunan yang tanpa syarat, tanpa hitungan tertentu?

Sudahkah kita belajar dari Pribadi Yesus yang bahkan tulus mengampuni orang yang menyakiti dan mendera dan menyalibkanNya hingga wafat? Sudahkah kita berdoa bagi mereka yang menjahati kita? Sudahkah kita berhenti menyatakan kutuk dan menggantikannya dg kata-kata berkat kepada mereka yg menyakiti kita, agar tidak lagi hati kita terkotori? 

Sudahkah kita membersihkan hati kita dari dendam, kebencian, luka, kesedihan yang selama ini membelenggu kita dengan cara melepaskan pengampunan & memohon ampun?

Jika kita hanya baik terhadap mereka yang baik kepada kita, apakah bedanya kita sebagai saksi Kristus?

Seperti saat Allah mengampuni kita berulang kali dan tanpa syarat, seperti itulah kasihNya yang kita teladani agar kita dimampukan melepaskan pengampunan kepada siapapun dan sebanyak apapun.

Hari ke 22 ( 2 Maret)

God's message: Ulangan 4:1-9, Mazmur 147: 1-12, Matius 5: 17-30

(Korban silih:
"Mercy and the drive to do good : Belas kasih dan dorongan untk berbuat baik"

Menyadari bahwa Allah adl Sumber segalanya bagi hidup kita. Seperti lantunan sebuah lagu: Semua Baik, demikian pula, segala yang berasal dari Allah, adl baik adanya. 

Merenungkan, bahwa kita telah menerima pengampunan, kebenaran, pengharapan, rahmat, berkat, hidup baru bahkan masa depan cerah, di bumi hingga di surga, yang kesemuanya adalah kebaikan-kebaikan yg berasal dari Allah.

Menyadari, hendaknya kita yang telah menerima segala kebaikan itu, terus tinggal dalam kerendahan hati, agar semakin menyadari betapa hidup kita adalah sebuah anugerah yg indah dari Allah. 

Sehingga kita mau memelihara diri dan hidup kita untk tetap tinggal didalam kebaikan2 Allah. Dan terus menjaganya dgn mengisi hidup kita dg sikap, perkataan, perbuatan2 baik; agar hidup kita tetap menjadi sebuah kebaikan dan keindahan, bagi kita sendiri, bagi keluarga dan bagi sesama.
Berikan diri kita menjadi pancaran kasih dan kebaikan Allah bagi orang lain, sehingga orang yg memandang kita, juga menemukan kasihNya melalui hidup kita. Yg akhirnya, hidup kita menjadi persembahan yang harum bagi Allah melalui kebaikan2 kita.

Hari ke 23 (3 Maret):

God's message:
Yeremia 7: 23-28, Mazmur 95: 1-11, Lukas 11: 14-23

(Korban silih:
"Mercy and the unity of the assembled people of God: Belas kasih dan kesatuan hati orang-orang pilihan Allah"

Mengingat kembali, bahwa Allah telah mencurahkan kasih dan selalu memberikan rancangan keselamatanNya bagi orang-orang pilihan Allah. Mengapa? Karna manusia yg dikasihiNya, hidup didalam dunia yang telah jatuh dan rusak, yang mengancam setiap manusia yg dikasihiNya dapat jatuh dalam kebinasaan.

Mengingat saat Allah mengirim Musa sbg alatNya untk menyelamatkan orang2 pilihanNya dari kejahatan orang Mesir, Allah telah turun tangan dg menyatakan keselamatan dan pertolonganNya dg berbagai mujizat. 

Mengingat, hingga akhirnya Yesus yang menjadi korban tebusan bagi kita manusia, demi menyelamatkan kita, melalui sengsara dan wafatNya. Kesemua ini bertujuan agar manusia kembali kepada jalan kasih dan keselamatan Allah, agar selamanya tetap bersama Allah, di bumi hingga kembali ke surga.

Mengingat bahwa tidak semua orang-orang menanggapi rancangan kasih dan keselamatan Allah dg hati yg tulus. Seperti orang-orang Israel yang bersungut-sungut dan masih saja menyembah berhala, sementara tangan kuat Allah menggengam mreka dari kejahatan org Mesir. Akhirnya mereka tidak dapat tiba di tanah terjanji dan binasa krn mereka memilih untk tetap berkeras hati dan berdosa.

Seperti saat orang-orang Farisi dan Saduki yang tetap tidak percaya dan menghina Yesus, bahkan saat mereka melihat mujizat2 yg dilakukan Yesus untk memberikan mereka pertolongan dan kesembuhan2. Akhirnya mereka tidak menerima keselamatan yg diperuntukkan bagi mereka.
Merenungkan kedalam hati kita, sbg himpunan org-org pilihan Allah, bagaimana tanggapan dan sikap kita terhadap rancangan Allah yg selalu mengundang kita kembali kepada jalan kasih dan keselamatanNya?

Apakah kita memilih mjd rendah hati untk terus belajar dan bertekun di jalan kasihNya shg kita benar2 menerima kebahagiaan dan keselamatan sejati, di bumi hingga di surga?
Atau sebaliknya justru mengeraskan hati dan memilih tetap berdosa shg kita tertinggal dalam jalan keselamatanNya dan akhirnya binasa?

Hari ke 24 (4 Maret):

God's message: Hosea 14: 2-9, Mazmur 81: 1-16, Markus 12:28-34

(Korban silih:
"Belas kasih dan cinta kasih kepada sesama seperti Allah mengasihi kita"

Menyadari diri untk mengenal kembali dg sungguh bahwa Allah adl kasih. Kita ada karna kasih dan anugerah Allah. Dan hanya didalam kasih yang berasal dr Allah, maka, kita akan dapat menikmati damai sejahtera dalam jiwa raga, kebahagiaan dalam kebersamaan, kehidupan dalam kesejatian, beroleh tujuan dalam kebenaran dan kehidupan dalam keselamatan.

Menyadari bahwa Allah terus menantikan, memanggil bahkan menarik kita kembali kepadaNya dan kasihNya. Karna Allah memiliki begitu banyak karya kasih yg akan dikerjakanNya dan begitu banyak rahmat yg akan diberikanNya bagi siapapun yg mau kembali dan mengasihiNya.

Membawa diri untk hening dan masuk ke kedalaman batin untk bertanya: sudahkah kita kembali kpd Allah dan kasihNya dalam pertobatan sejati kita dan berjalan lurus dalam jalan yg Allah sediakan? 

Sudahkan Allah dan kasihNya menjadi bagian dalam diri kita dan ? Sudahkah dg rendah hati kita menundukkan diri di hadapan Allah untk memohon belas kasihNya dan mengasihiNya dg tulus? Sudahkan kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita? Sudahkah rasa kasih itu menjadi sebuah kebaikan yg terpancar dalam sikap, perkataan dan tindakan nyata kita terhadap orang lain shg mereka merasakan betapa mereka kita kasihi?

Mengetahui bahwa dari segalanya, yg terbesar dan terindah adl: mengasihi Allah dan mengasihi sesama spt kita mengasihi diri kita sendiri.

"Siapa yg bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini, siapa yg paham, biarlah ia mengetahuinya. Sbab jalan Tuhan adl lurus dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir disitu". (Hosea 14:9)

Hari ke 25 (5 Maret):

God's message: Hosea 6:1-6, Mazmur 51: 1-19, Lukas 18:9-14 

Menanggapi undangan Allah melalui Hosea: "Mari kita berbalik kepada Allah, .... sbab Dialah yg akan menyembuhkan kita, ..... yang akan membalut kita. Ia yg akan menghidupkan kita.....Marilah kita mengenal dan sungguh2 mengenal Allah".

Tahun 2016 telah ditetapkan menjadi Tahun Suci Kerahiman Ilahi Luar Biasa. Dimana Allah telah membuka selebar2nya dan seluas2nya pintu kerahimanNya bagi kita.

Pada tgl 4-5 Maret 2016, HARI INI, ditetapkan sbg "24 jam Waktu untuk Tuhan". Gereja Katolik membuka pintunya untk memberikan Sakramen Pertobatan, yg juga merupakan Sakramen Rekonsiliasi, dimana melalui Sakramen Pertobatan maka kita akan menerima kembali pendamaian dg Allah dalam KerahimanNya yg luar biasa.

Datanglah kepada Allah, dalam kerendahan hati untk mempersembahkan pertobatan sejati, dan berseru seperti pemazmur yg dgn rendah hati berseru:

"Kasihanilah aku ya Allah, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yg besar. Bersihkan aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dr dosa2ku. Sbab aku sendiri sadar akan pelanggaranku.... terhadap Engkau sajalah aku tlah berdosa..... Basuhlah aku maka aku maka aku menjadi lebih putih dari salju". (Mazmur 51: 1-7)

Berserulah spt pemungut cukai yang berdiri di belakang karna merasa tidak layak dan berdosa: "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (Lukas 18:13-14).

Datanglah dan reguklah "air kerahimanNya", agar kita mjd manusia yang diampuni, dikasihi dan dibenarkan oleh Allah, masukilah pintu KerahimanNya, dan terimalah segala rahmat yang memulihkan, memerdekakan, memberi hidup baru yg indah dan menyelamatkan.

Hari ke 26 (6 Maret):

God's message: Yosua 5: 9-12, Mazmur 34: 1 - 23, 2 Korintus 5: 17-21

(Korban silih hari ke 26:
"Mercy and Confession: Belas kasih dan Pengakuan"


Merenungkan bahwa kita yang telah menerima pengampunan dari Allah telah juga menerima pemulihan bagi keseluruhan hidup kita.

Meresapi bahwa kita adalah manusia ciptaan baru didalam Kristus yang telah diampuni, dikasihi, dipulihkan dan dibenarkan.

Menyadari bahwa sudah selayaknya kita menyatakan sebuah pengakuan yang tulus betapa Allah adalah Maha Baik, Pengasih dan Penyayang terlebih bagi kita yang mengasihiNya.

Merenungkan, bahwa pengakuan yang kita berikan haruslah berasal dari sebuah hati yang benar2 mengasihi Allah dalam sebuah kerendahan hati bahwa tanpa Allah, kita bukan siapa siapa, dan siapakah kita ini boleh menerima anugerahNya yg sedemikian besar.

Memberikan korban syukur dan pujian sbg tanda kasih dan terimakasih kita, seperti pemazmur berseru:

"Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu, puji2an kepadaNya tetap didalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah... Muliakanlah Tuhan.

Aku telah mencari Tuhan lalu Ia menjawab aku dan melepaskan aku dari segala kegentaranku... Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu. Berbahagialah orang yg berlindung kepadaNya" (Mazmur 34)

Memberi tanda kasih dan terimakasih kita yang terbaik, adl dgn mempersembahkan hidup baru kita yaitu melepaskan manusia lama kita dan menjadi ciptaan baru yg indah.

"Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yg baru sdh datang"

Hari ke 27 (7 Maret):

God's message: Yesaya 65:17-21, Mazmur 30: 2-12, Yohanes 4:43-54

(Korban silih hari ke 27:
"Mercy and Healing: Belas kasih dan Pemulihan)


Mengingat kembali akan Allah yang telah menyatakan kasihNya yang tanpa syarat, tanpa batas dan penuh kesetiaan. Meresapi kembali kerahimanNya yang ajaib, yang telah mengampuni, memulihkan, menyembuhkan dan memerdekakan setiap kita.

Merasakan kembali bahwa dalam kerahimanNya, Allah telah memberikan hati baru, jiwa baru dan hidup baru yang murni dan indah bersama Allah. Melalui kerahimanNya, kita telah diperdamaikan dan menjadi anak-anak Allah yang dikasihi dan mengasihiNya. Juga yang dibenarkan untuk menerima segala janji Allah dan menjadi pewaris kerajaan Allah.

"Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati…. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga.”

Menyatakan seruan syukur & sukacita atas kasihNya yang memulihkan dan menyelamatkan kita:
“TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku… Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur…. TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh;…. Dalam kesenanganku aku berkata: "Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!" (Mazmur 30)

Hari ke 28 (8 Maret):

God's message: Yeheskiel 47:1-12, Mazmur 46: 1-11, Yohanes 5: 1-16

(Korban silih hari ke 28:
"Mercy and Heal: Belas kasih dan Kesembuhan"

Merenungkan bahwa saat Yesus bertanya kepada seorang yang telah sakit sekian lama dengan berkata: "Maukan engkau sembuh?" (dalam Yohanes 5: 5-9). Resapi bahwa pertanyaan itu ditujukan kepada setiap kita.

Menanggapi pertanyaan Yesus dengan sebuah tindakan nyata yang membawa kita pada kesembuhan dan hidup baru. Yakni, dg terus berusaha melakukan yg terbaik dgn niat hati bhw: bukan lagi aku yg hidup melainkan Kristus yg hidup didalamku. Seperti yang dilakukan orang yang sakit tsb: mengangkat tilamnya dan berjalan.

"Kata Yesus kepadanya: bangunlah dan angkatlah tilammu dan berjalanlah. Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan."

Merenungkan, bahwa kesembuhan yang kita terima adalah berasal dari Allah. Dan hendaknya kita yang telah menerima kesembuhan dan pemulihan, tetap terus tinggal didalam Allah dan memegang pesan Yesus bagi kita: "Engkau telah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk". (Yoh 5:14)

Dan tinggalah didalam Yesus senantiasa, dalam kasihNya, kebenaranNya, kekudusanNya, keselamatanNya. Tinggalah didalam Dia, "sumber mata air sejati", yang mengaliri aliran2 sungai hidupmu. Agar hidup kita menjadi sembuh dan baru, dan menjadi kebaikan bagi setiap orang yang kita jumpai.

Maka kita dimampukan berseru seperti pemazmur berseru:

"Kota Allah kediaman Yang Maha Tinggi. Disukakan oleh aliran aliran sebuah sungai. Allah ada didalamnya, kota itu tidak akan goncang. Allah akan menolongnya menjelang pagi.
....sbab pohon pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat".

Hari ke 29 (9 Maret):

God's message: Yesaya 49:8-15, Mazmur 145: 1-21, Yohanes 5: 17-30

(Korban silih: "Mercy and Hope: Belas kasih dan Harapan"

Mengingat kembali bahwa kita adalah umat pilihan Allah, yang dengan kasih setiaNya, Ia jaga dan pelihara dengan sepenuh kasih yg sempurna.
 
Merenungkan bahwa sebagai umat pilihan, kita telah diampuni, disembuhkan, dipulihkan, dibenarkan, diselamatkan dan dimuliakan dalam Kristus Yesus, yang kita terima dalam hidup kita yang baru ini.

Menyadari bahwa setelah kita menerima hidup baru yang dari Allah, hendaknya kita tetap tinggal dalam ketaatan, kebenaran dan kebaikan2 Allah. Kesemua ini, karna Allah memanggil kita menjadi anak-anak terangNya, yang akan menerangi dunia yang gelap dan penuh penderitaan. 

Terang yang memberikan harapan akan dunia, bahwa masih ada kasih yang mampu memberikan kebahagiaan dan keselamatan, untk membawa dunia yg gelap menjadi terang, untk mengubah penderitaan menjadi keselamatan.

Dan melalui diri dan hidup kita yg menerangi dunia, maka dunia dapat melihat Allah dan menerima kasih dan keselamatanNya, seperti yang telah diberikanNya bagi kita.

"....Aku telah membentuk dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia. Untk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi. Untk mengatakan kepada orang yang terkurung: 'Keluarlah!'", kepada orang-orang yang ada didalam gelap: 'Tampilah!..... sbab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat dekat sumber air...." (Yesaya 49).

Hari ke 30 (10 Maret)

God’s message: Keluaran 32: 7-14, Mazmur 106: 19-23, Yohanes 5: 31-47

(Korban silih hari ke
“Mercy and Vainglory: Belas kasih dan Kesombongan”

Menanggapi bahwa Allah menghendaki kesetiaan terhadap umat pilihanNya. Kesetiaan yang berbalut cinta kasih yang tulus dan benar terhadap Allah. Karna hanya didalam sebuah kesetiaan dalam kasih, maka hubungan kasih manusia bersama Allah akan terus terbina dan terjaga, sampai selamanya. Demikianlah Allah menghendaki kitapun tinggal dalam kesetiaan terhadap Allah.

Menyadari bahwa manusia penuh dengan kelemahan dan dunia penuh dengan segala godaan dan pencobaan yang mengancam kesetiaan kita kepada Allah, seperti yang terjadi pada umat Istrael yang dengan kasih dan kuasa Allah melalui Musa, dibawa keluar dari Mesir untuk dihantar ke Tanah Perjanjian, namun di tengah perjalanan, mereka kembali jatuh kedalam dosa:
“Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah…. Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.” (Keluaran 32).

Merenungkan bahwa ada 7 dosa utama/inti yang dapat membawa manusia jatuh kedalam dosa yang lebih besar dan akhirnya jatuh dalam kebinasaan. Yaitu: kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan.

Dan dosa yang utama adalah: kesombongan. Kesombongan yang berasal dari sebuah hati yang keras, yang tidak mau mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan kesetiaan, yang tidak mau dengan rendah hati menuruti ajaran dan perintahNya, walaupun Allah telah menunjukkan kasih, kerahiman dan mujizatNya, namun tetap tidak mau mengasihi dan percaya kepada Allah, seperti ‘tegar tengkuk-nya’ umat Istrael dahulu.

Menyadari bahwa kita harus tetap berjaga-jaga dalam segala hal, terus berusaha tetap rendah hati dan setia kepada Allah, agar tidak jatuh kedalam dosa kesombongan, yang menjauhkan kita dari kebahagiaan dan keselamatan yang kita butuhkan bagi jiwa dan raga kita.

Hari ke 31 (11 Maret):

God’s message: Kejadian 4: 2 -11, Mazmur 34: 1-22, Yohanes 7: 25-34

(Korban silih hari ke 31: “Mercy and Hatred: Belas Kasih dan Kebencian”

Merenungkan, bahwa tidak semua manusia menanggapi dengan baik terhadap kasih & kerahiman Allah yang bertujuan menyelamatkan manusia. Saat Yesus datang sebagai Mesias, begitu banyak orang yang menolakNya dan membenciNya. Sebuah kebencian yang datang dari sebuah hati yang tidak percaya, yang tidak ada kasih, yang penuh dengan iri dengki, sehingga kebencian itu menjadi sebuah kejahatan, hingga mereka menyakitiNya, dan akhirnya membunuhNya. 

Bahkan sejak awal bumi dan manusia diciptakan, benih-benih kebencian telah begitu banyak ditabur oleh roh jahat (iblis) untuk merusak sebuah hati dan akhirnya merusak & membinasakan sebuah kehidupan (Kisah Kain dan Habel pada Kejadian 4).

Merenungkan bahwa pemicu sebuah kebencian, adalah kemarahan, hati yang mudah emosi, dan hati yang keras. Dan akar dari kebencian adalah rasa iri dengki dan dendam karna tidak mau memahami dan mengampuni. Namun, tidak ada yang diperoleh dari sebuah kebencian, hanya hati yang penuh kepahitan, yang dapat berujung pada kejahatan dan keberdosaan.

Memahami bahwa Kerahiman Allah yang telah dinyatakan dan disempurnakan melalui diri Tuhan kita Yesus Kristus, telah memberi teladan bagi kita bahwa Allah mengampuni segala dosa dan memulihkan setiap jiwa dan kehidupan menjadi murni dan indah.

Hendaknya kita meneladan Yesus yang tetap mengasihi & mengampuni mereka yang membenci dan berbuat jahat kepadaNya. Meneladan kasih Allah Bapa yang penuh kasih dan pengampunan, yang bersamaNya, kita dimampukan untuk mengampuni sesama, dan dengan rendah hati memohon ampunan kepada Allah dan orang lain atas segala dosa dan kesalahan kita.

Membebaskan diri dari iri dengki, dendam, kemarahan dan kebencian, yang hanya mengancam keselamatan jiwa kita dan orang lain.

Mengenal dan meresapi kembali Buah Roh yang terdiri dari 9 karakter Roh Allah: Kasih, Suka cita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri.
Menempa diri untuk belajar Buah Roh Kasih sebagai pengganti kemarahan atau kebencian.

Hari ke 32 (12 Maret)

God's message: Yeremia 11: 18-23, Mazmur 7: 1-17, Yohanes 7:40-53

(Korban silih hari ke 32:
"Mercy and Martyrdom: Belas kasih dan Penderitaan para Martir"

Mengingat kembali, bhw atas dasar KerahimanNya, Allah terus bekerja dalam rancangan keselamatanNya, melalui utusan2Nya.

Mengenal arti kata Martir, mereka adalah orang-orang yang melaksanakan tugas perutusan untk mewartakan kabar kasih dan keselamatan dalam Allah. Mereka juga yang harus menanggung penderitaan demi tugas mulia ini.

Mengenal Yeremia, sebagai salah satu Martir pilihan Allah, ia mengalami banyak penolakan, penghinaan dan penderitaan, saat menyampaikan kabar baik bagi mereka yang terancam binasa akibat cara hidup mereka dan dosa-dosa mereka. 

Seperti Daud, yang juga mengalami hal yang sama. 

Yang akhirnya, karya penyelamatan Allah, disempurnakan oleh Tuhan Yesus, yang datang ke dunia untk menanggung derita hingga wafat di salib demi keselamatan umat manusia.

Penderitaan para Martir tidak menjadikan mereka menyerah, karna kasih mreka terhadap sesama lebih besar dari dirinya sendiri. Merekapun selalu memandang Allah, Allah Yang Maha Adil, mereka selalu mengandalkanNya dan percaya bahwa Allah bersamanya dan melindunginya.

Menyadari bahwa orang benarpun harus mengalami penderitaan karna hidupnya diserahkan kepada Allah untk menjadi alat keselamatanNya (sbg Martir) demi banyak orang selamat dan tidak binasa. Namun orang-orang yg mau diselamatkan, justru menjadi semakin jahat.

Merenungkan bahwa orang jahat (fasik), yang hatinya dan hidupnya penuh dengan rancangan (niat & perbuatan) kejahatan yang merugikan orang lain, dan tidak mau berubah walau telah menerima warta keselamatan Allah, maka mreka hidup dengan kesia-siaan yang dibuatnya sendiri, dan menerima kebinasaan di akhir kehidupannya. Kejahatan bukan saja sebuah perbuatan besar yang membuat orang lain menderita, namun sebuah niat (rancangan) tidak baik yg merugikan org lain demi kepentingannya sendiri, itupun adl sebuah kejahatan besar.

"...ia membuat lubang dan menggalinya dan ia sendiri jatuh kedalam lubang yang dibuatnya..." (Mazmur 7)

Merenungkan bahwa orang benar, walaupun harus menderita krn kejahatan orang lain, namun ia akan selalu hidup dalam penyertaan Allah, dan menerima mahkota surga di akhir masa hidupnya. Karna Allah adl Maha Adil.

"...biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang benar, Engkau Yang menguji hati dan batin orang ya Allah yg adil. Perisai bagiku adl Allah yang menyelamatkan orang-orang yg tulus hati..." (Mazmur 7)

Memahami, setiap pilihan dan perbuatan, ada konskwensi yang harus dipertanggung jawabkan kelak. 

Hari ke 33 (13 Maret):

God's message: Yesaya 43: 16-21, Mazmur 126: 1-6, Filipi 3: 8-14

(Korban silih hari ke 33:
"Mercy and Goodness: Belas kasih dan Kebaikan"

Memahami hal tentang kebaikan. Kebaikan yang utama dan terutama adl kebaikan yang berasal dari Allah. Kebaikan yg murni, tanpa syarat dan tanpa batas bagi seluruh umat manusia. Kita telah melihat, walaupun tidak semua manusia menanggapi dengan baik atas kebaikan Allah, dimana Allah terus bekerja demi mengasihi dan menyelamatkan manusia, namun kasih setiaNya tidak pernah berubah dan tidak pernah berkesudahan. 

Mengingat kembali, bahwa saat manusia menyedihkan hati Allah dgn penolakan, pemberontakan dan meninggalkan Allah, namun Allah tetap setia dan selalu menanti sembari terus bekerja memberikan kebaikan2Nya dlm rancangan kasih dan keselamatanNya bg manusia. Allah slalu berusaha membawa manusia kpd rancangan semula, yaitu hidup dlm kebaikan, kebenaran, kasih dan keselamatan yg dari Allah.

"...janganlah ingat ingat hal yang dahulu...Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yg baru, yg sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai sungai di padang belantara.." (Yesaya 43:18-19)

Mengingat dan meresapi kembali kasih Allah dalam Yesus Kristus, kasih yang sempurna yang berisi dengan segala kebaikan2, bahkan Yesuslah kasih dan kebaikan itu sendiri. KasihNya mengubahkan bagi setiap kita yang rendah hati, percaya, taat dan mau hidup dalam jalan dan tuntunanNya.
Merenungkan kembali kebaikan2 Allah, bahwa kita yang telah mengalami Kristus dalam kasihNya, kita yang telah menerima mahkota keselamatanNya, juga yang telah menerima warisan keselamatanNya.

Meneguhkan hati agar kita menanggapi kebaikan2 Allah dengan menjadi pribadi yang utuh dan baru didalam Kristus. Walau apapun yg sdg kita alami, suka duka dan airmata, kita tetap tinggal dalam kebaikan Kristus. Terus berusaha mjd pribadi yang penuh kebaikan dlm sgala ada kita, dlm fikiran, perkataan, sikap dan perbuatan kita.

"...orang-orang yang menabur dengan mencucurkan airmata, akan menuai dgn sorak sorai. Orang yg berjalan maju sambil menabur benih, pasti pulang dgn sorak sorai sambil membawa berkas berkasnya."(Mazmur 126: 5-6)

"...malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia daripada semuanya..." (Filipi 3:8)

Hari ke 34 (14 Maret):

God’s message: Yesaya 9: 1-7, Mazmur 23:1-6, Yohanes 8: 12-20

(Korban silih hari ke 34: “Mercy and The Light : Belas Kasih dan Sang Terang”

Merenungkan kembali bahwa sejak dunia dijadikan, sampai selamanya, Allah selalu hadir membawa KerahimanNya bagi seluruh umat manusia, dan Tuhan Yesus datang membawa terang kudusNya demi keselamatan umat manusia.

Merenungkan kembali bahwa manusia harus hidup di tengah dunia yang kian lama semakin ‘gelap’, kegelapan yang membelenggu setiap manusia yang memilih tinggal didalam kegelapan itu. Dan kita berada di tengah-tengah kegelapan yang berasal dari dunia ini. Namun jangan takut dan khawatir, karna Sang Terang telah datang ke dunia. Sang Terang, Yesus Kristus, yang rela menyerahkan seluruh keberadaanNya dalam penderitaan sampai wafat di salib, demi mengasihi, menerangi dan menyelamatkan umat manusia dan kita semua.

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar…. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9: 1-7)

Saat sebuah lilin diletakkan di tengah kegelapan, maka semua yang hidup akan datang mendekatinya untuk menerima terang. Karna sgala yang hidup, tak akan mampu hidup dalam kegelapan. Terang tidak dapat dikuasai oleh kegelapan segelap apapun, kegelapan akan tersingkir saat terang telah datang. Dan siapapun atau apapun yang berada dekat dengan terang, maka akan menjadi hidup dan menjadi pancaran dari terang itu.

Mengambil KEPUTUSAN untk datang kepada Sang Terang, Yesus, Tuhan kita. Berkeputusan untuk tetap tinggal dekat dengan Sang Terang, tinggal didalam Sumber Kehidupan, agar diri kita terlepas dari segala kegelapan, dan kita menjadi “hidup”, dan kehidupan kita menjadi pancaran terang Kristus.

Menyadari, bahwa saat kita tinggal didalam dan bersama Sang Terang, Tuhan Yesus Kristus, maka kita akan mampu berseru seperti Daud :

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23)

Hari ke 35 (15 Maret):

God’s message: Bilangan 21:4-9, Mazmur 102: 1-28, Yohanes 8: 21-32

(Korban silih hari ke 35:
“Mercy and The Cross: Belas Kasih dan Salib”

Merenungkan kembali, bahwa perjalanan kasih Allah dalam KerahimanNya yang bertujuan mengembalikan manusia kedalam rancangan kasih dan keselamatan, telah dimulai sejak dunia dijadikan, dan terus Allah kerjakan melalui utusan utusanNya, seperti yang kita kenal misalnya: Nuh, Abraham, Musa, Yesaya, Daud, dan masih banyak lagi umat pilihanNya yang dijadikan utusanNya (alatNya) untuk membawa manusia kembali kepada rancangan kasih dan keselamatanNya, agar manusia tidak binasa, melainkan hidup dalam segala kebaikan Allah.

Mengenal sebuah nama, yang sejak bumi dijadikan telah ada dan berusaha menggoda, memperdaya, mendustai, mencobai, dan menyeret manusia untuk masuk dalam perangkapnya, agar manusia yang diperdayanya, dapat menjadi pengikutnya untuk melawan Allah dengan segala macam dosa dan kejahatan. Mereka adalah si jahat, yang kita kenal dengan iblis atau roh jahat, yang dikepalai oleh Lucifer, yang sejak awal telah melawan Allah dengan dosa kesombongannya. Mereka tau bahwa pada hari akhir, mereka akan masuk dalam api kebinasaan kekal, karnanya sebelum itu terjadi, maka mereka terus mencari pengikut (manusia) untuk nantinya bertempur melawan Allah. (Yesaya 14:12-15)

Mengetahui, bahwa segala kesombongan dan dosa yang diperbuat oleh iblis dan manusia pengikutnya, tidak akan mampu merebut tahta Allah, karna Allah Sang Pencipta adalah berkuasa dan kekal. Suatu saat nanti, si jahat beserta seluruh pengikutnya yang selalu melawan Allah, yang tinggal dalam kejahatan & keberdosaan, yang tidak mau percaya dan bertobat, akhirnya akan masuk ke dalam jurang maut selama-lamanya. (Wahyu 20: 1-3)

Menyadari bahwa Allah mengetahui semua hal itu, dan juga Allah memahami bahwa kita adalah manusia lemah, sedangkan begitu besar ancaman dari roh jahat yang mencoba merenggut kita dari tangan kasih dan keselamatan Allah. Inilah mengapa Allah dengan kasih setiaNya, Allah terus bekerja dalam rancangan kasih dan keselamatanNya bagi kita, karna Allah tidak ingin satupun manusia jatuh kedalam perangkap si jahat dan akhirnya masuk dalam kebinasaan kekal.

Mengingat kembali bahwa setelah Allah mengutus banyak utusanNya, namun manusia tetap tinggal dalam kejahatan dan dosa. Yang pada akhirnya, rancangan Allah tiba pada sebuah karya keselamatan yang disempurnakanNya melalui Yesus Kristus, Sang Mesias, Sang Penyelamat yang penuh kasih.

Mengenal bahwa sebelum kehadiran Yesus, persembahan kurban domba dilakukan sebagai tanda pertobatan dan perdamaian dengan Allah. Namun kini, Yesus Kristus, Sang Anak Domba Allah, Ia yang menjadi korban tebusan bagi dosa manusia. Melalui Yesus, manusia berdosa yang mau percaya dan bertobat akan menerima pengampunan dan penebusan dosa, juga sebuah keselamatan hingga kekal. Kesemua ini diperoleh melalui sebuah pengorbanan, penderitaan, cucuran darah dan wafat Sang Kritus pada SALIB-Nya.

Mengenal SALIB sebagai sebuah tanda penyelamatan yang membawa manusia pada keselamatan. Dan yang tergantung disana adalah Yesus, sang Kasih, yang mengasihi kita melebihi hidupNya sendiri. Sehingga kita yang percaya dan bertobat didalam nama Yesus, menerima pengampunan, pemulihan dan perdamaian kembali dengan Allah.

SALIB yang memerdekakan kita dari perbudakan si jahat dan dosa, dan membawa kita pada hidup baru yang berkemenangan, berbalut kebahagiaan serta keselamatan di bumi hingga di surga.
"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8: 32)

Hari ke 36 (Rabu, 16 Maret):

God’s message: Daniel 3: 14-30, Mazmur 37: 1-40, Yohanes 8: 31-42

(Korban silih hari ke 36: “Mercy and Courage: Belas kasih dan Keberanian/Keteguhan hati”)

Menyadari bahwa dalam KerahimanNya, Allah memberikan sebuah karunia istimewa dan besar, yaitu iman dalam Yesus Kritus. Iman yang menjadi sarana pemersatu antara Allah dengan manusia.

Merenungkan bahwa sebuah iman membutuhkan keberanian, yaitu keberanian untuk percaya, untuk berserah diri dan untuk merelakan diri diatur& dibentuk oleh Allah. Sebuah iman akan menjadi berarti, jika disertai dengan perbuatan. Sebuah perbuatan dalam iman membutuhkan keberanian dan keteguhan hati, untuk dapat melakukan segala perkara baik didalam Allah dengan sepenuh rasa percaya.

Percaya bahwa Allah baik, bahwa rancanganNya indah, bahwa Dia bekerja bagi kebaikan kita, bahwa Ia selalu menyertai kita, bahwa kasihNya kekal , bahwa Ia menyediakan dan memberikan yang kita butuhkan, bahwa Ia membentuk kita menjadi bejanaNya yg indah, bahwa segala perintah dan ajaranNya adalah untuk kebaikan kita, bahwa segala laranganNya adalah untuk kebaikan dan keselamatan kita, dan bahwa bahwa Ia selalu rindu untuk bersama sama dengan kita, di bumi hingga di surga.

Juga berani dalam keteguhan hati untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita, dengan menuruti setiap perkataan firmanNya, juga berani untuk tidak melakukan segala laranganNya.

Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego, dalam imannya, berani untuk percaya sepenuhnya kepada Allah dan berteguh hati untuk berbuat yang Allah kehendaki, maka Allah menyatakan diriNya dan pertolonganNya yang ajaib. (Daniel 3: 17-30)

Maka kita akan dimampukan berseru seperti Daud:

“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,…. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;….. Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” (mazmur 37)

Hari ke 37 (Kamis, 17 Maret):
 
God’s message: Kejadian 17:3-9, Mazmur 105: 1-15, Yohanes 8: 51-59

(Korban silih hari ke 36: “Mercy and Fatherhood: Belas kasih dan Kebapaan”)

Mengenal Abraham sebagai umat pilihan Allah yang oleh kasih setia Allah, Abraham dipilih menjadi Bapa banyak bangsa. Bersama Abraham, Allah mengikat perjanjian kasih, bahwa Allah akan menjadi Allahnya yang menyertai dan memberkati sampai kepada keturunan-keturunannya.

“Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja…. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.”

Merenungkan seperti kepada Abraham, Allahpun telah memilih kita menjadi umat pilihanNya yang dikasihiNya, bahkan kita telah diangkat menjadi anak-anakNya, dan Allahpun telah mengikat perjanjian yang kekal bersama kita. Sebuah perjanjian kasih, seperti bapa kepada anaknya, seperti itulah Allah terhadap kita, anak-anakNya. Dan melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan segala penyertaan, kasih, rencana dan pekerjaanNya didalam hidup kita. Dan melalui Yesus Kristus, kita yang telah diperdamaikan kembali bersama Allah, tekah diangkat menjadi anak-anak Allah dan menerima segala kasih, kuasa dan mahkota kehidupan, sampai pada kekekalan.

Merasakan bahwa sebagai anak yang telah dipilih, diangkat, dibenarkan, diampuni, dikuduskan, dikasihi, diberkati berlimpah dan diselamatkan, hendaknya kita menaruh rasa syukur, hormat dan hidup untuk kemuliaan Allah. Dan hendaknya juga, kita berusaha terus hidup didalam Allah, dan selalu hidup didalam pimpinan Roh Allah (Roh Kudus), agar hidup kita dimampukan menjadi pribadi yang rendah hati & penuh ketaatan, yang penuh kasih, yang penuh pengendalian diri agar tidak lagi mendukakan Allah dgn perbuatan atau perkataan kita, dan hidup untuk menyenangkan Allah.
Sehingga seperti Abraham, kita bisa menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah.

“….hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!.... Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!.... Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mazmur 105)


Hari ke 38 (Jumat, 18 Maret):

God’s message: Yeremia 20: 10-13, Mazmur 18: 1 – 50, Yohanes 10: 31-42

(Korban silih hari ke 38: “Mercy and Spiritual warfare: Belas kasih danPeperangan rohani”)

Mengenal satu lagi anugerah Allah yang diberikan karna kerahimanNya bagi kita, yaitu kehendak bebas, yang sering kita dengar dengan ‘free will’. Kita telah belajar dan mengetahui, betapa Allah telah menyatakan, memberikan segala kebaikanNya dalam jalan kasih dan keselamatanNya, dengan penuh kasih setia. Dalam Yesus Kritus, kasihNya sempurna, dan dalam Roh Kudus, penyertaanNya nyata selalu ada bagi kita, di bumi hingga di surga.

Namun karna kasihNya sempurna, Allah tidak memaksakan manusia untuk kembali, untuk mengasihi dan menuruti kehendakNya. Segala yang dilakukanNya dalam kesetiaanNya untuk mengembalikan manusia ke rancangan indahNya, itu karna Allah setia serta sangat mengasihi manusia, dan selalu memberi kesempatan bagi setiap manusia untuk kembali kepadaNya. Namun, manusia-lah yang memilih untuk mau menjadi milik Allah (dengan mengasihi dan menuruti kehendak Allah) atau menjadi milik dunia (dengan menolak Allah dan melakukan hal2 yg bertentangan dengan jalan kasih Allah). Tidak bisa dipungkiri, walau Allah telah menyatakan kasihNya dengan segala cara, namun masih ada manusia yang memilih untuk menolak Allah dan mengasihi dunia dengan segala kejahatan dan keduniawiannya.

Mengingatkan kembali mengapa Allah terus bekerja dalam kasih kerinduanNya agar manusia kembali kepadaNya, karna bagi kita yang memilih untuk kembali dan tinggal dalam jalan kasih, kebenaran dan keselamatanNya, maka selama-lamanya kita akan bersama sama dengan Allah, dari hidup di bumi hingga hidup kekal di surga, dalam kehidupan yang penuh kelimpahan, damai sejahtera dan sukacita. Karna Allah-lah Sumber Segala bagi kita dan kita tinggal didalam Sumber tersebut.

Namun bagi mereka yang walaupun telah diingatkan dengan segala caraNya, namun tetap memilih untuk tetap menjauh, tidak mau bertobat dan berubah, terus melakukan perbuatan dosa dalam kesadarannya, melepas dan melawan Allah demi kesenangan dan keduniawiannya; bahkan akhirnya memilih menjadi pribadi yang jahat dan menolak Allah, maka ia tidak bersama sama Allah, sejak di dunia dan tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Pemazmur menyebut mereka sebagai orang-orang fasik.

Mengenal sebuah ‘PEPERANGAN ROHANI’ yang harus dihadapi oleh umat pilihan Allah, oleh kita, anak-anak Allah, yaitu sebuah godaan IBLIS untuk kembali jatuh dan menjauh dari Allah. Juga harus menghadapi sebuah peperangan yang datang dari orang-orang FASIK, yang terus menggangu, mencela, menyakiti, mendera, men-jahati kita dengan segala caranya. Namun tetaplah MEMILIH menjadi anak-anak Allah yang baik dan benar dimataNya.

Merenungkan sebuah pesan indah Bunda Theresa: 

“Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud tersembunyi di balik perbuatan baik yang engkau lakukan itu. Tetapi tetaplah berbuat baik.”
“Apabila engkau berubah menjadi pribadi yang lebih baik, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan teman-temanmu iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah perubahan baikmu itu.”
“Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.”

“Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi tetaplah berbahagia.”

“Terkadang kita berpikir perbuatan baik kita bagai setitik air di samudra. tapi ketahuilah, sang samudra akan merasa tidak lengkap tanpa setitik perbuatan baikmu itu”

(dikutip dari: pesan kasih Bunda Theresa)

Ingatlah selalu bahwa kita berbeda, anak-anak Allah adalah berbeda:

Pilihlah untuk belajar dari Yesus, yang tetap menjadi baik dan indah, walau dalam perjalanan hidupnya menemukan begitu banyak penderaan, penghinaan dan penderitaan dari orang-orang fasik. Maka Yesus hidup mulia selama-lamanya dan orang-orang fasik jatuh binasa. Jadilah saksi kasih dan keselamatanNya bagi sesama. Kasihilah sesama bahkan mereka yang memusuhi kita.

“Apabila engkau sudah begitu baik, namun masih ada orang fasik yang menghina, mencibir, merendahkan, memfitnah, berniat tidak baik, angkuh & sombong, menderamu, menjahatimu. Tetaplah MEMILIH menjadi baik.”

Ketahuilah bahwa pada akhirnya bukan antara kita dengan mereka; namun antara kita dengan Allah, Sang Pencipta.

Hari ke 39 (19 Maret):

God's message: 2 Samuel 7:4-16, Mazmur 89: 1-29, Roma 4: 13-25

Korban silih hari ke 39: "Mercy and Jesus: Belas kasih dan Yesus"

Mengingat kembali akan karya kasih dan keselamatan Allah yang telah dikerjakanNya dalam kesetiaan, dan disempurnakan melalui karya salib Yesus, Tuhan kita.

Mengingat kembali bahwa tidak ada seorang manusiapun dapat menyelamatkan dirinya sendiri, dan juga tidak ada seorangpun yg bisa mengusahakan keselamatan bagi dirinya sendiri atau untk org lain. Keselamatan hanya datang dari Allah, melalui Tuhan Yesus, yang diberikan kepada kita, bukan karna kebaikan kita, melainkan karna kasih anugerah Allah bagi kita.

Memahami bhw demi penebusan dosa kita dan keselamatan kita, Tuhan Yesus menebus kita, bukan dgn barang fana namun dg darahNya yg kudus dan penderitaanNya yg sehabisnya demi kita. 

Menyediakan hati, diri dan waktu, untk mengiringi Yesus, Tuhan kita, memasuki masa saat Dia menunaikan karya kasih dan keselamatanNya bagi kita. 

Sejak Yesus masuk ke Yerusalem sambil menaiki keledai (Minggu Palma), hingga saat perjamuan terakhir (Kamis Putih), Yesus ditangkap dan diadili, lalu Yesus memanggul salib dan wafat disana (Jumat Agung), hingga ia bangkit mulia (Paskah).

Mengheningkan hati dan bertanya: "Yesus, mengapa Kau rela memanggul salib ke Golgota?"

Mendengar jawabanNya:
"Semua Kulakukan karna kasihKu padamu, karna Ku ingin selalu bersamamu dalam kebahagiaan, selamanya. 

Kini Ku bertanya:
Maukah Kau lepaskan segala yang menjauhkanmu dariKu dan kembali sepenuhnya padaKu? Dalam rentang tanganku yg tersalib ini, apakah kasih selebar ini belum cukup bagimu??".

Hari ke 40 (20 Maret)

Korban silih hari ke 40: "Mercy and the Passion of Jesus Christ"

God's message:

Mengheningkan hati dan diri, menyediakan dan memberikan waktu bagi Tuhan, merenungkan dan meresapi:

1. Minggu Palma (Lukas 19: 28-44)
Yesus dengan rela memasuki kota Yerusalem, untk datang dan menunaikan karya keselamatanNya bagi seluruh umat manusia.

Yesus tau bahwa waktuNya telah dekat, telah tiba, saat Ia harus menanggung derita hingga wafat.

Namun karna kasihNya bagi kita, dengan penuh kerelaan dan kerendahan hati, Yesus memasuki Yerusalem sambil menaiki keledai sederhana.

Ia, Sang Mesias yang menyelamatkan kita, yang telah melepaskan segala Ke-IlahianNya, yang merendah hati dan penuh kerelaan, menyerahkan diri untk menderita demi kita yang berdosa dan lemah tak berdaya bahkan tak berdaya untk keselamatan kita sendiri.....;
....masihkah kita berkeras hati untk tidak mau datang kepada Tuhan?, masihkah kita terlalu angkuh dan tidak mau merendahkan hati dihadapanNya? Masihkah kita tidak mau memillihNya karna memilih untk tidak mau melepas banyak hal yang tidak baik demi kesenangan diri kita & keduniawian kita?

Maukah kini kita menyadari untk dengan rendah hati datang dalam pertobatan sejati dan mengiringi perjalanan kasih Yesus dengan perubahan diri dan budi, sehingga kita menghasilkan buah yang benar dan tetap? Agar kita bisa bersamaNya dalam kebahagiaan sejati selamanya?

2. Perjamuan terakhir (Lukas 22: 14-53)

Ada sebuah perkataan Yesus yg sungguh indah kepada murid2Nya: "Aku sangat rindu untk makan Paskah ini bersama sama dengan kamu, sebelum Aku menderita" (Lukas 22: 15)

Kerinduan Yesus untk tetap bersama sama dengan kita, di bumi hingga di surga, telah dinyatakanNya, bukan hanya melalui perkataan namun juga melalui perbuatan kasihNya hingga wafat di kayu salib. Sehingga bagi kita yang percaya dan mengasihiNya dg tulus dalam jalan kasih dan kebenaranNya, maka boleh turut serta dalam perjamuan kudusNya yg tlah disiapkanNya di surga.

Rindukah kita untk tetap bersama sama Tuhan di bumi hingga di surga?

Setelah makan Paskah, Yesus berdoa di Taman Getsemani hingga berair mata dan ber keringat darah. Didalam pandanganNya, hanya ada kita yg begitu dikasihiNya.

Apakah kita mau memandangNya, dan menghapus air mata kasihNya dgn pertobatan dan perubahan budi kita? Atau kita masih acuh tak perduli dan berkeras hati untk tidak perduli dan tetap menyakitiNya dgn dosa dan keangkuhan kita dan terpisah dariNya shg menerima kebinasaan?

3. Jumat Agung (Lukas 23: 1 - 49)

Tiga kali Yesus terjatuh karna beratnya beban salib dan darah yang terus mengucur dalam luka luka yang menganga.

Yesus tetap bangkit lagi dan berjalan, demi para pendosa yang sulit bertobat, Ia tetap berjalan dan menunaikan karya kasihNya.

Pernahkan kita bertanya: apa yang ada dalam fikiran dan hatiMu saat Kau memanggul salib penderitaanMu, Tuhan?

JawabNya: "...dalam fikiranKu dan hatiKu, hanya ada kamu, sahabat2Ku yg Kukasihi".
Adakah Yesus meraja di hati dan fikiran kita? Adakah kita yang telah jatuh dan jatuh lagi, mau bangkit dan berjalan lagi bersama Yesus, demi kita terus bisa bersamaNya, menikmati kasih dan keselamatanNya?

4. Sabtu sunyi (Lukas 23: 50-56)

Yesus wafat, dan masuk ke alam maut (kematian). Namun Yesus tetap hidup. Di alam maut, Ia mematahkan segala maut yang menghadang manusia, Yesus menyatakan kepada alam maut bahwa Ialah penguasa dan barang siapa (manusia) yang percaya dan bersamaNya, maka mereka adl milikNya dan tetap hidup (walau sudah mati), dan maut tidak akan menguasainya.

Bagi kita manusia, maut (dan kematian) adalah bagian dari sebuah perjalanan kehidupan, yang tidak dapat kita hindari atau hilangkan.

Masihkah kita bertegar hati untk menghadapi maut sendirian dan akhirnya kita dikuasai oleh alam maut dan tinggal disana selama2nya, karna kita tidak mau percaya, menerima dan bertobat kepada Kristus, dan hanya karna ingin memuaskan segala kesenangan dan keduniawian kita?
"Untuk apa kita mendapatkan dunia namun kehilangan nyawa?"

5. Paskah (Lukas 24)

Yesus bangkit dari alam maut, Ia bangkit mulia: "Damai sejahtera bagi kamu".
Bagi kita yang dengan cinta turut mengambil bagian dalam karya kasih dan keselamatanNya, kiranya kita juga selalu tinggal dalam damai sejahtera di bumi, serta dilayakanNya untk dibangkitkan dan turut ambil bagian dalam Kerajaan SurgaNya.


************** 

Ada bagian Tuhan, namun ada bagian kita. 

Tuhan telah melakukan dan menunaikan bagianNya dgn sempurna, sepenuh kasih setiaNya. Kasih dan keselamatanNya telah diberikanNya, namun hanya diterima bagi mereka yang mau menerimaNya.

Sudahkah kita melakukan bagian kita untuk menerimaNya?

"Selamat mengiringi Yesus menuju PaskahNya bagi kita. Selamat menerima kasih dan keselamatan yg dariNya. Selamat menerima Yesus dan hidup baru yang indah bersamaNya, di bumi hingga di surga."

(dgn pimpinan Roh Kudus, puji Tuhan telah diijinkan mempersembahkan karya Roh Kudus dalam bahan permenungan retret batin 40 hari menjelang Paskah Tuhan, yg kupersembahkan untk sahabat2ku, karna cinta kasihku dan cinta kasih Yesus bagimu.

Terima kasih Yesusku, terima kasih Roh Kudus, semua kupersembahkan untk kemuliaanMu). 

Terima kasih Allah Tritunggal Yang MahaKudus. Segala hormat, syukur dan kemuliaan, hanya bagiMu. Amin

Love you JESUS, Praise be Yours!!.

Blessing be yours,
Arini



Selasa, 09 Februari 2016

Misteri Rabu Abu didalam Kerahiman Ilahi - "Bread" For Soul



A “Bread” for our Soul: Rabu Abu di Tahun Kerahiman Ilahi

“AKU HANYALAH DEBU BERDOSA YANG DIKASIHI ALLAH DAN BERHARGA BAGI ALLAH”

"All are from dust and to dust all shall return"

Debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kita kembali kepada Allah yang mengaruniakannya." (Pengkotbah 12:7)

"Dan banyak dari antara orang yang telah mati, akan bangun, sebagian untuk mendapatkan hidup yg kekal, dan sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal" (Daniel 12:2)

********

Kita sering mendengar perkataan bahwa hidup di dunia hanya sementara, kehidupan di bumi adalah perziarahan manusia menuju hidup sejatinya di keabadian.

Kitapun tau, bahwa tubuh kita akan kembali menjadi abu di bumi. Segala harta benda yang ada pada kita akan kembali menjadi debu. Segala yang ada di bumipun akan musnah tak berbekas. 

Namun, roh kehidupan kita akan kembali kepada Allah. Dialah yang memberikannya sebagai anugerah dan kepadaNya-lah kita akan kembali.

Kebenaran yang ada adalah: setelah tubuh dan sgala yang ada kembali menjadi abu dan debu, namun hanya tubuh yang mati, sementara jiwa dan Roh yang ada pada kita, akan tetap hidup dan menjalani hidupnya dalam keabadian dan kekekalan. Roh yang hidup, yang tetap bisa melihat, mendengar, dan merasakan seperti yang ada pada kita saat ini (seperti firman Tuhan dalam Lukas 16:19-31)

Marilah mengambil waktu untuk kembali merenungkan dan bertanya: kemana akan kubawa jiwa dan rohku pergi setelah ini? Apakah aku sudah menemukan dan menyiapkan jalan bagi roh-ku untuk kembali?

Kita juga memahami, bahwa kehidupan kita bukanlah kehidupan yang tanpa masalah atau beban, sebaliknya, di setiap langkah hidup kita, kita harus menjumpai berbagai hal dan persoalan, yang terkadang menyulitkan, menyakitkan, melelahkan, menghimpit dan membuat jiwa kita tertekan dan menderita. Baik itu datang dari keluarga, orang lain, bahkan dari diri kita sendiri akibat konsekwensi dosa atau kesalahan yang harus kita terima. Tanpa disadari, banyak luka yang tercipta di jiwa kita.

Dalam keadaan jiwa yang terhimpit, kita menderita, kita seolah berada didalam sebuah pusaran yang membuat hidup kita lelah tak berdaya, lalu kita bertanya: “Kemana aku harus pergi untuk mendapatkan sesuatu yang membuat jiwaku & hidupku pulih dan kembali segar?”

Marilah kita menemukan dan meraih jawaban untuk jalan keselamatan bagi roh kita & jawaban bagi kesegaran jiwa kita:

"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). ”Dan upah dosa ialah maut!” (Roma 6:23)

Sehingga:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)


Karya kasih dan keselamatan Allah, yang telah dimulaiNya sejak bumi dan manusia diciptakan, telah disempurnakan melalui kehadiran Yesus dalam sengsara, wafat dan kebangkitanNya, dan telah mencapai puncaknya pada sebuah keindahan dalam Kerahiman Ilahi.

Ya, Yesus adalah jawaban akan keselamatan yang kita butuhkan, sebagai sumber Kerahiman Ilahi bagi manusia.

Kerahiman berasal dari kata ‘rahim’.

Rahim ibu adalah sebuah tempat bagi seorang bayi tinggal dan bertumbuh. Rahim ibu adalah tempat teraman dan terhangat dimana sang bayi menerima segala yang dibutuhkan dan tak pernah ber-kekurangan. Seorang Ibu akan selalu memberikan yang terbaik dalam segala hal dan dengan segala cara, demi kebahagiaan, kebaikan dan keselamatan bayi yang dikandungnya. Rahim ibu adalah sumber kasih dan kehidupan.

Demikianlah, Allah adalah kasih. Allah yang Maha Rahim, adalah sumber kasih dan kehidupan bagi kita. Dengan kasih setiaNya, dengan segala caraNya, telah menyatakan karya kasih & keselamatanNya yang sempurna didalam Kristus. Ia juga telah memelihara, mengasihi dan memberkati kita, demi manusia ciptaanNya selalu berada dalam kebahagiaan, kebaikan dan keselamatan.

Betapa berharganya sebutir abu yang ditebus & diberikan keselamatan melalui cucuran darah, penderitaan dan wafatNya. Betapa kita telah dijadikanNya sungguh berarti dalam Kerahiman Ilahi.

Kini Firman Tuhan kembali berseru:

“....terhadap umatku yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Sekarang mata-Ku terbuka dan telinga-Ku menaruh perhatian kepada doa dari tempat ini.” (2 Tawarikh 7:14-15)


"Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"(Matius 4:17) 

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yoh 14:6).

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula mereka juga ditentukan-Nya   dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,  supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung  di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula ,   mereka itu juga dipanggil-Nya.  Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.   Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:28-30)

Rahmat dan kasihNya telah nyata dicurahkan, pintu Kerahiman Ilahi telah terbuka lebar, namun jika kita tidak meresponiNya, maka kita tidak akan menerima apa-apa. Jiwa kita akan terus tertekan dan tidak mendapat kelegaan, dan hidup kita tidak akan mengalami pembaharuan yang kita nantikan.

Allah yang Maha Rahim tidak pernah lelah mengundang anak-anakNya untuk datang dan menerima rahmat dan kasihNya, namun kini giliran kita yang meresponiNya, menyambutNya, dengan datang kepadaNya, dan membuka hati seluas-luasnya bagi kasih dan rahmatNya tercurah dan memenuhi kita. Kasih dan rahmat Tuhan yang akan memulihkan kita, menyembuhkan setiap luka kita, menyegarkan kembali jiwa raga kita dan menjadikan hidup kita baru dan indah.

Sembari menyanyikan lagu: “Hanya debulah aku…”, mari kita datang kepada Allah melalui Yesus Kristus. Dengan sepenuh jiwa dan kerendahan hati, memohon rahmat & pengampunan dan penyerahan diri seutuhnya, agar rahmat Allah yang mengampuni, memulihkan dan membebaskan kita, nyata kita terima dan memperbaharui kita untuk menjadi umat kekasihNya.

Dan marilah kita berikan yang terbaik melalui pertobatan sejati kita yang akan kita nyatakan dalam pembaharuan budi, perkataan dan perbuatan kita, agar kita boleh menjadi persembahan yang harum bagi kemuliaan Allah.


Selamat menerima rahmat pertobatan dan pengampunan dari Allah dalam Kerahiman IlahiNya.

Selamat memasuki dan memulai masa ter-mulia dalam hidup manusia, yaitu Masa PraPaskah, masa bagi kita merenungkan, menghayati dan menerima rahmat dan anugrah kasih & keselamatan Allah, melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

Kiranya setelah kita mengalami pertobatan dan menerima kasih karunia, kita semua dilayakkan mengambil bagian dalam keindahan karya kasih & keselamatanNya di bumi, dan juga membuka jalan bagi roh dan jiwa kita untuk berbahagia di surga kelak.


Doa:
Ya Allah, aku datang kepadaMu dengan apa adanya, membawa segenap puji dan syukur atas segala kebaikan dan anugerahMu bagi hidupku.

Kini aku serahkan segalanya, jiwa raga dan rohku, juga kelemahan, kesalahan & dosa-dosaku, aku mohon Kau ampuni. Didalam namaMu, aku juga mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kami.

Aku persembahkan segala bebanku, sakit penyakitku, kesakitanku, kepahitan hidupku, pergumulanku, persoalanku & penantianku, aku letakkan semuanya di kaki salibMu yang kudus. Aku mohon, sembuhkan, pulihkan, bebaskan, segarkan dan indahkan.

Aku menerima kasih, rahmat dan berkat yang dariMu, maka hidupku menjadi baru dan jiwaku menjadi segar dan penuh damaiMu.

“Terpujilah Allah Tritunggal Kudus yang melingkupiku dalam KerahimanMu.”

Didalam nama Tuhan kami, Yesus Kristus, kami berdoa.

Blessings be yours,
Arini


Selasa, 27 Oktober 2015

INDAHNYA KELUARGA - "Bread" For Soul

KELUARGA

Dare to ask ourself:

Apakah aku sudah ada bagi keluargaku? Apa yang sudah aku lakukan untuk kebahagiaan keluargaku?
“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus,……. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.” (Efesus 5: 22-33)

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”. (Efesus 6:1-4)
Yang terbaik dan terindah yang kita miliki didalam dunia ini adalah mereka yang Tuhan pertemukan dan satukan dalam sebuah KELUARGA.

Itulah keluarga kita = Suami Istri, Orangtua Anak, Kakak Adik.

KELUARGA ADALAH ANUGERAH TERBESAR DAN TERINDAH BAGI KITA, KELUARGA ADALAH TANDA KEHADIRAN ALLAH YANG NYATA BAGI HIDUP KITA. 

MAKA RAWATLAH DAN SAYANGILAH

*********************************

Siapakah keluarga bagi kita, siapakah kita bagi keluarga?

SUAMI ISTRI =

- Sebagai orang yang telah bersedia memberikan diri dan hidupnya untuk bersama kita & mengasihi kita
- Sebagai tempat berbagi dalam segala hal dalam kehidupan
- Sebagai orang yang selalu ada untuk memberikan yang terbaik bagi kita
- Sebagai orang yang melakukan banyak hal untuk kebahagiaan kita
- Sebagai orang yang selalu ada dan akan selalu bersama kita dalam segala keadaan kita

ORANGTUA YAITU AYAH IBU KITA =

- sebagai tempat kita mengawali kehidupan kita saat kita dikandung dan dilahirkan,
- sebagai tempat kita berlindung dan menerima bekal kehidupan (baik jasmani dan kebutuhan jiwa) saat kita bertumbuh dari bayi menuju dewasa
- sebagai mereka yang tidak pernah berkata sibuk, tidak ada waktu, tidak mau untuk mengurus kita hingga dewasa dan hidup pantas
- sebagai mereka yang waktu, tenaga, fikiran, keringat dan kesakitan dan seluruh hidupnya diberikan bagi kita untuk kebahagiaan kita,
- sebagai tempat kita beroleh kasih sayang sejati yang berasal dari pengorbanan mereka, demi kita hidup dalam kebaikan-kebaikan yang mereka sediakan dan berikan
- Sebagai mereka yang tidak mengharapkan balas jasa apapun dari kita, namun terus mendambakan waktu, kebersamaan dan kasih sayang yang boleh mereka nikmati terlebih di saat mereka telah tua dan letih (tua dan letih setelah melakukan dan memberikan yg terbaik bagi kita)
- sebagai tempat yang meluruskan jalan untuk kita hidup penuh berkat dan selamat di dunia hingga kembali kepada surga Bapa, melalui doa-doa mereka

ANAK KITA =

- Sebagai buah hati yang Tuhan jadikan untuk menyempurnakan kebahagiaan kita
- Sebagai buah hati yang melengkapi kehidupan kita
- Sebagai tempat kita mencurahkan segala hati
- Sebagai buah hati yang mendoakan kita untuk segala kebaikan hidup di bumi hingga di surga
- Sebagai orang yang akan ada bersama kita, dalam kurun waktu sampai entah kita atau mereka yang nanti lebih dulu pergi

***************
Keluarga adalah tempat berbagi, tempat menerima dan tempat kita akan selalu kembali.
Dan adalah mereka yang ada dan akan selalu ada di dekat kita, apapun keadaan kita: baik dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam sakit dan keceriaan, dalam jatuh dan bangun, dalam harapan dan keputus-asaan, dalam kesendirian dan keramaian, saat yang lain tidak ada dan tidak perduli, dalam hidup dan saat kematian, dan dalam segala hal.

Itulah keluarga kita = Suami Istri, Orangtua Anak, Kakak Adik.

Merekalah yang selalu nyata ada disamping kita, dan akan tetap ada & setia menantikan kita walau saat kita menjauh dari mereka.

Mari kita kembali kepada keluarga kita, kepada kasih mula-mula yang Tuhan tanamkan dalam keluarga kita, antara Suami Istri, Orangtua Anak, Kakak Adik.

Karna sejatinya, keluarga-lah milik kita satu-satunya di bumi ini.

Berhenti bertanya: apa yang dapat keluarga berikan kepada kita, tapi bertanyalah apa yang bisa kita berikan untuk kebahagiaan keluarga kita yang mengasihi dan kukasihi; lalu LAKUKANLAH, selagi kesempatan itu masih Tuhan berikan. Dan apakah masih pantas kita bertanya dan meminta keluarga melakukan sesuatu bagi kita setelah selama ini segalanya dilakukan dan diberikannya kepada kita, sementara belum ada yang kita lakukan bagi mereka?

Bertanyalah:

- mengapa kita lebih bersyukur dengan harta benda dan kesusksesan yang Tuhan titipkan sementara saja, daripada bersyukur dan berdoa bagi keluarga yang Tuhan berikan bagi hidup kita?

- mengapa kita bisa berkata baik & lembut pada orang lain, namun justru berkata kasar kepada keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita bisa bersikap manis pada orang lain, namun justru bersikap tidak baik kepada keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengeluh, bersungut-sungut, complain atau marah kepada keluarga kita, daripada memanfaatkan waktu untuk saling bicara, saling peluk, saling dukung dan mengisi waktu dgn kebersamaan yg indah bersama keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita terus menerus menilai, menunjuk, menghakimi bahwa keluarga kita tidak baik terhadap kita, sementara belum ada kebaikan yang bisa kita tunjukkan dan berikan kepada keluarga kita?

- mengapa kita bisa banyak berbuat dan memberi pada orang lain, namun justru tidak memberi atau melakukan apa-apa kepada keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita tidak tega menyakiti orang lain, namun justru dengan sadar dan terus menerus menyakiti keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa mulut kita penuh dengan pujian, sapaan kepada oranglain, namun tidak pernah menyapa dan memuji keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa tangan kita sibuk berjabat tangan dengan orang lain, namun tidak pernah sempat membelai keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa tangan kita penuh dengan buah tangan untuk orang lain, namun tidak pernah memberikannya kepada keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita bisa menghabiskan banyak waktu & moment bersama orang lain, namun justru sisa-sisa waktu dan kelelahan yang kita berikan kepada keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita bisa mencari-cari dan datang kepada orang lain, namun keluarga yang mengasihi dan kita kasihi kita tinggalkan dan acuhkan?

- mengapa hal-hal atau orang lain yang kita fikirkan, sementara ada keluarga yang mengasihi dan kita kasihi, ada didepan mata kita, menantikan kita?

- mengapa kita bisa memaafkan orang lain, namun terus menyimpan dendam dan amarah serta tidak mau memaafkan keluarga yang mengasihi dan kita kasihi?

- mengapa kita mau dan mampu membahagiakan orang lain, namun tidak mau untuk membahagiakan orangtua yang melahirkan dan membesarkan kita, suami/istri yang setia mendampingi kita, anak-anak yang adalah buah hati kita?

- mengapa kita memilih bersama orang lain yang tidak akan ada bersama kita, dan memilih kehilangan keluarga yang mengasihi dan kita kasihi krn kita meninggalkan mereka?

- mengapa kita hanya menitipkan , mendiamkan dan mengacuhkan anak-anak dan pasangan kita, sementara yang mereka nantikan dan harapkan di sepanjang hari mereka, adalah kehadiran dan kasih kita?

- mengapa kita menitipkan atau melupakan dan meng-acuhkan orangtua disaat mereka justru telah tua dan letih setelah sepanjang umurnya berkorban segalanya demi kehidupan kita?

Berusahalah merengkuh sebanyak-banyaknya kasih yang bisa kita nikmati bersama keluarga pada saat masih bersama kita, berilah bagian diri kita yang terbaik dalam sikap, perkataan dan perbuatan kasih yang akan menciptakan sebuah keluarga yang penuh keceriaan dan damai sejahtera. Dan kita boleh menyiapkan diri untuk sebuah moment indah yang dapat terus kita kenang, yaitu bagian terbaik yang pernah kita berikan dan lakukan untk kebahagiaan keluarga kita, saat mereka, satu persatu tidak lagi bersama kita.

Dan ingatlah bahwa: seindah-indahnya tempat di bumi ini, adalah keluarga yang ada bagi kita. Kemanapun kita pergi, maka keluarga-lah tempat kita kembali, tempat kita menemukan, tempat kita menyatukan sgala hati dan hasrat dalam kebahagiaan, tempat kita merasakan damai dan kebahagiaan.
Apakah kita bisa temukan semua ini di tempat lain atau dari orang lain?

Ketahuilah: Family is beautiful, pelihara dan tambah2kan keindahannya, jangan biarkan apapun atau siapapun mengambil keindahan sebuah keluarga dari hidupmu.
Selagi mereka ada.....

Catholic Family Is Beautiful - "Bread" For Soul

Catholic Family Is BeautifuL

(Oleh-oleh Kutipan Kotbah Fr. Cantalamessa OFM Cap, KRK "Catholic Family is Beautiful", 24 Oktober 2015):

PART 1 Relasi Suami Istri
Ef 5:22-33
 
Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Dalam surat Rasul Paulus ini, dikehendaki supaya suami mencintai istri, tetapi meminta istri tunduk kepada suami, yang pada jaman sekarang ini tampak sulit dgn adanya kesamaan gender.
Skrg kita bukan diminta menyingkirkan "istri tunduk pd suami" tetapi hendaknya ada relasi, kasih dua arah. Istri tunduk pada suami, suami pun tunduk pada istri (dua arah). Tunduklah satu sama lain; berarti saling menghormati yang menunjukkan kasih akan Kristus.
Dlm pernikahan, tunduk artinya satu sama lain saling menghormati dan saling berdialog tidak mengambil keputusan sendiri. Bila perlu mengorbankan kepentingan dan pendapatnya sendiri.
Utk memahami indahnya kehidupan suami istri kita diajak kembali melihat bagian awal kitab Suci, dimana Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang serupa dengan gambaran Allah.
Dalam hal mencintai, terjadi pertukaran inter personal. Ada aku dan kamu, karena Allah umat Kristiani adalah SATU tetapi tiga pribadi (yaitu Allah TriTunggal yang MahaKudus > Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus), yang sama pikiran dan kehendak-Nya tetapi pribadi-Nya berbeda. Tepat seperti itulah hubungan suami istri yang serupa dengan gambaran Allah. Suami dan istri menjadi satu tubuh, satu hati dan satu jiwa walaupun mereka berbeda pribadi. Dalam hubungan suami istri bukan aku atau kamu tapi kami.
Seksualitas Berperan Penting dalam Kitab Suci
Adanya laki-laki dan perempuan adalah cara Allah membuat ketarikan antar sesama. Dalam seksualitas ada ketergantungan; laki-laki tergantung pada wanita dan sebaliknya. Mengajarkan kita tidak dapat hidup sendiri, kita akan saling tergantung dan saling membutuhkan.
Jaman dulu, saat seorang laki-laki melamar seorang wanita, laki-laki itu akan mengulurkan tangan dengan keadaan berlutut dan meminta tangan perempuan seperti seorang pengemis. Dengan kerendahan hati meminta kesediaan wanita utk menjadi pendamping hidupnya.
Keindahan Pernikahan Kristiani adalah Gambaran Kesatuan Kristus dengan Gereja
Realitas kadang lebih rumit bahkan kadang tragis. Pernikahan sekarang membutuhkan integritas. Seperti alat elektronik yang dulunya bila rusak akan diperbaiki. Jaman sekarang orang lebih memilih membuang dan mengganti dengan yang baru. Jika ini diterapkan dalam pernikahan maka yang ada adalah kehancuran. Maka diperlukan untuk memperbaiki; gunakan pendekatan cara lama yakni tetap menggunakan dan memperbaiki yg lama.
Jangan biarkan amarahmu tetap ada sebelum matahari tenggelam. Jika satu mengeluh kepada yang lain, belajarlah untuk mengalah, saling memaafkan, bersabarlah satu dengan yang lain. Lakukanlah seperti kita melakukan segala hal itu bagi Kristus.
Yesus melakukan mujizat yang pertama untuk menyelamatkan sebuah acara pernikahan di Kana. Ia ikut bersukacita bersama dengan tuan rumah. Yesus pun selalu siap untuk membuat mujizat dalam setiap pernikahan.
Apa artinya Yesus mengubah air menjadi anggur dalam pernikahan di Kana? Artinya, jika kita mengundang Yesus dalam pernikahan kita maka Yesus akan mengubah ketiadaan sukacita menjadi suka cita, mengubah keadaan menjadi bergairah. "Air menjadi anggur manis."
PART 2 Relasi Orang Tua dan Anak
Ef 6:1-4
Taat dan kasih
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Relasi antara orang tua dan anak adalah serupa dengan relasi kita dengan Allah Bapa.
Sebagaimana kanker menyerang bagian otak. Keretakan, perselisihan dapat merusak relasi orang tua dan anak. Melalui berbagai cara seperti orang tua yang otoritas, kurangnya perhatian, kurangan waktu, kurangnya sapaan mesra, perkataan yang keras dan kasar, sikap yang ramah terhadap anak dan lain lain. Iblis selalu menginginkan perpecahan melalui hal-hal tersebut. Penderitaan bersifat timbal balik. Bagi orang tua penderitaan terberat adalah ditolak atau diabaikan oleh anak-anaknya, dan ini berlaku pula sebaliknya. Penderitaan anak, adalah ketika ia merasa diabaikan oleh orang tuanya.
Kita harus mengikuti Allah Bapa. Dia mengasihi kita, menerima kita apa adanya. Demikian orang tua hendaknya menerima anak apa adanya meskipun anak itu tidak seideal yg diharapkan orang tua.Betapa dalam frustasi yang bisa dialami oleh anak-anak saat mereka mengalami penolakan dari orang tua mereka.
Bagi anak-anak jangan menunggu sampai ayah ibumu meninggal untuk berterima kasih kepada mereka atas hidup yang diberikan untuk kita, pengorbanan, kasih dan perhatian mereka pada kita. Katakanlah kepada orang tuamu, rasa terima kasihmu ini, dan juga katakan rasa kasih dan sayangmu kepada orangtua, pasti akan membuat mereka bahagia.
Allah tidak hanya menyampaikan kewajiban orang tua kepada anak, tetapi juga menurunkan rahmat Allah agar pasangan suami istri dapat menurunkan rahmat Allah kepada anak-anak mereka.
Pernikahan Kristiani adalah Satu
Tidak ada yang dapat memecah, suami istri menjadi satu dalam Roh Kudus, satu tubuh dan satu roh. Suami istri hendaknya berdoa bersama, saling mengingatkan, menguatkan, menghibur, bersama-sama ke Gereja, ambil bagian dalam Gereja Allah, menderita bersama, tidak saling mendukakan, tidak saling mencelakakan, saling membuat tanda salib, disinilah Allah bersuka cita.
Dimana Yesus hadir maka kejahatan pergi. Tentu kita membutuhkan Roh Kudus untuk mencapai hal ini. Terutama sekarang kita sering diserang dari berbagai sisi yang membuat kita goyah dari ketaatan. Roh Kudus selalu mampu memperbaharui pernikahan bahkan pernikahan yang sudah mati sekalipun.
Undanglah Yesus dalam kehidupan kalian, berdoalah bersama, baca Firman bersama, sampaikan kebutuhan kalian dalam doa, Dia selalu tahu dan memahami kita. Kembalilah kepada Yesus dalam pernikahan kalian...
Amin

Kamis, 01 Oktober 2015

Obidience is Start Your Step... - "Bread" For Soul

Dare to ask ourself:

OBEDIENCE IS START YOUR STEP AND KEEP DOING YOUR BEST THINGS FOR THE GOOD

When we do good, we will gain good things.

When we do more, we will gain more.

When we give more, we will receive more things 

When we do less, we gain less.

When we not doing anything, we will not gain anything.

Noone will REAP if they not SOW.

Also,

Noone with go somewhere or reach somewhere without make their first step.

When we make a first step, it will follow with our next step and it will lead us to somewhere.

When we make a good step, it will follow with blessing and it will lead us to a good great place.

"Let your words & actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more. It will not only add good things to others but its actually add your value of life.”

Life is not counted by what we get or what we have or even who we are; but it will only counted by any of our good things, good step we sow at our life to others.

So, lets start do it.....

Inner Power - "Bread" For Soul

Dare to ask ourself :

INNER POWER

Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari LUAR, maka kehidupan di dalam telur BERAKHIR, tetapi jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari DALAM, maka sebuah kehidupan baru telah LAHIR.

HAL HAL BESAR SELALU DIMULAI DARI DALAM DIRI KITA

TUHAN tidak pernah menjanjikan bahwa :

Langit akan selalu BIRU
Bunga akan selalu MEKAR dan
Mentari akan selalu BERSINAR.
Tetapi ketahuilah bahwa DIA selalu memberi :
PELANGI di setiap badai
SENYUM di setiap air mata
BERKAH di setiap cobaan dan
JAWABAN di setiap doa.

Dalam mengarungi gelombang kehidupan, janganlah pernah menyerah sahabatku :

KITA HARUS TERUS MELANGKAH DENGAT KETAATAN !!

Kini, mari hidupkan & gunakan Inner Power yang ada didalam diri kita.

Mulailah dengan mengatakan kepada jiwa kita:

Hai, jiwaku, bangun dan bangkitlah. Mari bersamaku meraih segala asa dan impian.

Hai jiwaku, bersukacitalah dan selalu bersyukur dan pujilah Tuhan, karna dariNya, olehNya dan kepadaNya, asal dan tujuan hidup kita mengalir indah.

Hai jiwaku, mari lakukan sesuatu, agar ada makna di hidup ini yang bisa kita berikan, karna sebelum kita memberi hidup ini untk kebaikan oranglain, maka tidak ada arti yang membuat hidup kita berarti.

Lakukan bagian kita dengan terbaik yang kita bisa, maka Tuhan melakukan yang selebihnya bagi kita, membawa kita pada hidup yang terbaik didalam rancangan indahNya.

Sebab:

Roma 8:28-30=

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 

Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya"

Medio September 2015

Kamis, 17 September 2015

WIth God All Thing Is Possible - Tiada yang mustahil jika bersama Allah - "Bread" For Soul

If you can dream it, you can receive, because : WIth God all things is possible

“Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mzm.37: 3-4)”

Lukas 1:37 = "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

Tuhan ingin memberikanmu apa yang diinginkan hatimu. Sering kita berpikir,”Saya tahu apa yang sesungguhnya saya inginkan, tapi saya tidak tahu apakah itu kehendak Tuhan.” Keraguan atas apakah pikiran kita benar-benar merupakan kehendak Tuhan dapat melumpuhkan kita dari dalam dan jika kita tidak yakin, maka kita terbuka bagi serangan keragu-raguan.

Yesus mengatakan di dalam Luk.9:62, Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah. Namun, inilah justru yang kita digoda untuk lakukan. Kita merasa tidak pasti dan kita melihat ke belakang. Tetapi Tuhan tidak ingin kita merasa tidak pasti mengenai kehendakNya. Dalam Rm.12:2 Dia mengatakan bahwa kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

1 Kor.2:12 mengatakan kepada kita bahwa kita telah menerima Roh dari Tuhan (Penolong kita) supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Allah tidak pernah bermaksud untuk membiarkan kita tetap berada di luar kehendakNya. Dia ingin menyatakannya kepada kita sehingga kita dapat yakin akan pikiranNya mengenai kita dan mengenai apa yang Dia telah berikan kepada kita secara cuma-cuma.

Kadang-kadang kita bersembunyi di balik pernyataan seperti,”kehendak Allah” atau “Saya hanya ingin kehendakNya”. Sudah pasti bahwa hal ini benar dan perlu. Kita harus mengikuti Yesus dan mencari KerajaanNya di atas semuanya. Namun, setelah Anda memiliki sikap hati seperti itu, Allah akan mulai berbicara kepada Anda dan menanyakan apa yang Anda inginkan. Dia senang memberikan apa yang diinginkan hatimu.

Dalam Mrk.10:46-52 kita menemui Yesus sedang dalam perjalanan keluar dari Jerikho. Dia melewati Bartimeus, seorang pengemis yang buta. Bartimeus telah mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan. Ayat 47 mengatakan bahwa saat Bartimeus mendengar bahwa itu adalah Yesus dari Nazaret, dia mulai berseru nyaring kepadaNya. Mengapa? Karena ia telah mendengar tentang Yesus! Apa yang telah dia dengar? Dia pasti telah mendengar bahwa Yesus mengampuni dosa, mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan yang sakit dan mengajar tentang Kerajaan Allah. Dia tidak akan pernah mengharapkan bahwa Yesus akan mau menolongnya jika sebelumnya dia tidak pernah mendengar bahwa Yesus menyembuhkan yang sakit.

Apa yang Anda dengar sangatlah penting. Iman datang dari pendengaran akan Firman Kristus (Rm10:17). Jika Anda tidak mendengarkan Injil sepenuhnya, tingkat pengharapan Anda akan sangat terbatas. Anda tidak dapat memperoleh iman untuk hal-hal tertentu jika Anda tidak tahu akan kehendak Allah mengenai hal tersebut. Semakin sedikit Injil yang Anda dengar, semakin kecil jugalah iman Anda di dalam Dia. Namun demikian, puji Tuhan untuk Injil yang Anda dengar sekarang. Itu merupakan Kabar BaikNya bagi Anda untuk setiap hal dalam kehidupan Anda sehari-hari.

Apa yang Anda Inginkan?

Bartimeus telah mendengar bahwa Yesus menyembuhkan yang sakit kemanapun Dia pergi. Dia mulai berseru kepada Yesus dan meskipun ada rintangan dari orang banyak, dia menolak untuk diam. Yesus mendengar Bartimeus dan memanggilnya. Bartimeus berlari menuju Yesus dan Yesus memberikan pertanyaan kepadanya, Apa yang engkau ingin Aku lakukan untukmu? Dia tidak hanya mengatakan,”Ini adalah kehendak Allah bagimu!” Dia menanyakan orang itu apa yang ada di dalam hatinya. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Yesus. Perhatikanlah jawaban Bartimeus, Guru, aku ingin melihat.

Akan selalu ada satu atau dua orang ahli teologi yang sinis yang akan menuduh bahwa permintaan Bartimeus ini benar-benar egois; bagaimana dia hanya memikirkan tentang dirinya dan bagaimana doanya seharusnya lebih banyak berpusat kepada Allah. Perkataan seperti itu adalah omong kosong. Yesus datang untuk menolong orang-orang, untuk mengangkat yang tertindas, membebaskan yang terikat dan menyembuhkan yang sakit. Dia meresponi kebutuhan dan doa orang-orang.

Bartimeus memiliki permintaan, kerinduan—sebuah kebutuhan; dia ingin melihat. Tidak salah bagi dia untuk menginginkan hal itu bagi dirinya sendiri. Itu bukanlah egois untuk meminta penglihatannya disembuhkan. Sudah barang tentu Yesus ingin memberikan itu kepadanya, tetapi sebelum Dia melakukannya, Dia ingin mengetahui apa yang menjadi pikiran dari Bartimeus sendiri.

Dalam Yoh.15:7 Yesus mengatakan, Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dia tidak berkata,”Berdoalah untuk apa saja yang Aku kehendaki maka itu akan diberikan kepadamu,” tetapi apa saja yang kamu kehendaki. Allah ingin memberikanmu apa yang diinginkan hatimu. Jika Anda di dalam Yesus dan FirmanNya tinggal di dalam Anda. Dia mengharapkan Anda untuk meminta apa saja yang Anda kehendaki karena hatimu dan pikiranmu adalah benar di hadapan Allah.

Apakah maksudnya itu? Flp.2:13 mengatakan, Karena Allahlah yang bekerja di dalam dirimu untuk berkehendak dan bertindak menurut tujuanNya yang baik (terjemahan langsung dari bahasa Inggris). Allah bekerja di dalam diri kita, membuat keinginanNya sendiri menjadi kerinduan kita. Keinginan Bartimeus untuk kesembuhan bukanlah hal yang egois. Itu adalah sesuatu yang Tuhan taruhkan di dalam dia. Namun, dia pertama-tama diajak untuk mengenali dan menerima kerinduan itu, mulai menginginkannya dan mengungkapkannya dalam perkataan dan tindakan, sebelum hal itu menjadi nyata kepadanya.

Allah tidak Menyembunyikan

Allah telah menempatkan pikiran, mimpi, keinginan dan kerinduan di dalam Anda sehingga Dia ingin Anda menerima dan mulai bertindak atas hal itu.
Namun, disinilah tepatnya iblis sering masuk pelan-pelan, menunjukkan jarinya dan menuduh kita, ”Engkau egois!” Dia berkata juga, ”Itu tidak mungkin kehendak Allah. Engkau sendirilah yang membuat-buatnya. Itu semua ‘kedagingan’,” dst. Apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa setan sedang menaburkan benih kecurigaan terhadap Bapa surgawimu. Ingatlah apa yang terjadi pada saat kejatuhan (ke dalam dosa). Hawa berdosa karena si ular itu berhasil menipu pikirannya dan membuatnya percaya bahwa Allah menyembunyikan sesuatu yang layak diinginkan darinya. Dalam Kej.3:5 ular itu berkata, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Atau dalam kata lain, ”Allah menyembunyikan dan menahan sesuatu darimu. Dia tidak ingin engkau menjadi seperti Dia. Ada sesuatu yang Dia tidak ingin engkau memilikinya. Dia menahan sesuatu.” Kita mendengarkan nasehat-nasehat yang sama pada masa ini.
Tapi Allah tidaklah demikian! Dia tidak menahan sesuatu dari Anda. Dia adalah Bapa yang baik dan pengasih bagi Anda.

Tragisnya, banyak orang masuk ke dalam kehidupan di bawah kesan yang sama seperti Hawa, yang telah ditipu oleh iblis—bahwa Allah bersifat tidak pengasih, menyengat dan secara umum menentang Anda. Tapi itu salah! Allah ada di pihak Anda! Rm.8:32 mengatakan, Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Banyak orang yang telah menjalani hidup ini dengan perasaan bahwa Allah telah menyembunyikan dari mereka hampir semua hal dan mereka menjadi kepahitan terhadap Dia. Allah telah menjadi seperti musuh bagi mereka. Mereka tahu tidak ada gunanya untuk berperang melawan Dia, Dia mahakuasa dan harus ditaati. Namun mereka tidak mendapatkan sukacita, kerjasama ataupun penghiburan mereka di dalam Dia. Mereka membayangkan Dia keluar untuk mencuri bahkan sukacita yang tinggal sedikit yang mereka punyai. Ini mengerikan! Si ular itu telah membuat hati mereka pahit dan memberikan mereka gambaran yang palsu mengenai Bapa surgawi kita yang luar biasa.

Salah satu contoh orang yang memiliki masalah seperti ini adalah saudara tertua dalam perumpamaan mengenai anak yang hilang (Luk.15:25-32). Dia menjadi marah saat adiknya disambut dengan sambutan yang hangat dan penuh kasih. Dia merasa bahwa ayahnya tidak pernah memberikan dia apa-apa. Akan hal ini ayahnya menjawab, Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu (ayat 31). Aset kekayaan itu ada di sana sepanjang waktu namun dia tidak pernah datang dan meminta apa yang dia inginkan. Ingatlah perkataan Yesus di dalam Yoh.15:7, mintalah apa saja yang kamu kehendaki.

Saat Anda memiliki gambaran yang benar mengenai Allah dan menyadari bahwa iblislah yang telah menghalangi Anda untuk berdoa bagi keinginan hati Anda, Anda akan mulai datang lebih berani kepada Allah. Saat Anda melihat bahwa iblislah yang membuat tabu hal-hal yang biasa bagi Anda untuk diminta dari Bapa, Anda akan mulai mendekati Allah dengan keyakinan. Sama seperti Anda secara fisik diciptakan dalam cara yang khusus dengan kebutuhan yang khusus pula, begitu jugalah Anda sebagai ciptaan baru di dalam Kristus memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang Allah ingin untuk dipuaskan. Anda tidak pernah malu untuk haus. Adalah biasa dan alami untuk haus, lapar dan capek pada waktu-waktu tertentu. Anda tahu bahwa itu adalah kebutuhan normal manusia yang harus dipuaskan. Sama seperti tubuh fisik Anda memiliki kebutuhan yang Allah ingin puaskan, jiwa dan roh Anda juga memiliki kebutuhan yang Dia ingin penuhi. Jangan biarkan iblis membebani Anda dengan perasaan bersalah akan hal-hal itu. Biarkan Bapamu memuaskannya.

Hargai Mimpi-mimpimu!

Allah ingin memberikan kepada Anda keinginan hati Anda. Banyak orang menghentikan keinginan-keinginan, mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran mereka dan mencoba untuk “menjadi wajar”. Jangan! Terimalah apa yang Allah telah tempatkan di dalam Anda. Dia ingin Anda memimpikan mimpiNya, memikirkan pikiranNya, merencanakan rencanaNya dan Dia ingin Anda mulai melangkah menuju pewujudannya. Hal-hal itu diwujudkan saat Anda meminta hal itu kepada Allah dan mulai bertindak menurut apa yang Anda doakan. Allah kemudian akan mulai bekerja di dalam Anda , dan Dia ingin pertama-tema menempatkan di dalam Anda hal-hal yang Dia inginkan di bumi. Saat Anda kemudian merenungkannya, mendoakannya dan mengklaimnya dan mengambil langkah-langkah ke arah itu, Allah akan mewujudkannya.

Itulah yang terjadi kepada Bartimeus. Mungkin itu dimulai hanya sebagai sebuah pemikiran. Pemikiran berkembang menjadi harapan. Harapan bertumbuh menjadi keyakinan bahwa jika Yesus datang suatu hari, sesuatu akan terjadi. Lalu Yesus datang! Keyakinan, kerinduan dan keinginan di dalam diri Bartimeus bangkit ke suatu titik di mana tidak seorangpun yang dapat menghentikannya. Orang-orang tidak dapat menahannya, kebutaannya juga tidak akan menghalanginya. Dia berteriak dan berlari kepada Yesus—dan apa yang terjadi? Dia menerima keinginan hatinya. Yesus berkata kepadanya, Imanmu telah menyembuhkan engkau (Mrk.10:52).

Yesus menyebut keinginannya yang gigih untuk melihat kebutuhannya dipenuhi itu sebagai iman—dan Dia lakukan hal yang sama dalam masalah Anda juga. Yesus memberi Bartimeus keinginan hatinya, dan Dia akan melakukan yang sama untuk Anda. Dan apakah hasilnya? Bartimeus mengikuti Yesus (ayat 52). Beberapa orang membayangkan bahwa jika kita menerima apa yang kita inginkan, kita akan menjauh dari Tuhan. Tidak, yang sebaliknyalah justru yang terjadi. Kita mengikuti Dia jauh lebih dekat lagi!

Dalam Yoh.15:8 Yesus berkata, Ini adalah untuk kemuliaan Bapaku, bahwa engkau menghasilkan banyak buah, menunjukkan dirimu sendiri sebagai murid-muridKu (terjemahan langsung dari bahasa Inggris). Hal itu membawa kemuliaan kepada Allah saat Anda menghasilkan banyak buah dan menerima keinginan hati Anda. Pria dan wanita melihat bahwa Allah nyata saat Dia mendengar dan menjawab doa-doamu karena Allah dengan nyata menyertai Anda.

Allah dimuliakan saat orang-orang melihat KerajaanNya, rencanaNya, dan pikiranNya memakmurkan Anda. Dia ingin melihat Anda menjangkau kepada janji-janjiNya, mempercayai Dia untuk menjawab keinginan Anda, dan bahwa Dia akan memberikan Anda keinginan hati Anda. Dia ingin Anda mengulurkan tangan dan menjangkau lebih jauh lagi untuk memimpikan, merencanakan dan menginginkan lebih lagi dariNya.

Tanamkan dalam hatimu bahwa:

Segala hal yang baik dan indah, walau itu seolah mustahil sekalipun bagi manusia, namun Allah sanggup dan bahkan Allahlah yang menaruh keinginan/harapan/permohonan yang baik dan indah itu di hatimu.

Keinginan hati/harapan itu bisa berupa: kesembuhan (jiwa & raga), kebahagiaan & damai sejahtera, pemulihan keluarga/hubungan, pemulihan ekonomi, pasangan hidup, berkat anak, berkat pekerjaan dan rejeki, keinginan untuk hidup melayani Allah dan sesama, karunia/rahmat/hikmat Allah, bahkan keinginan dalam bentuk materi yang bisa menunjang hidupmu dan pekerjaanNya di bumi melalui hidupmu, dll, semua Allah sediakan dan berikan bagi kita yang mengasihiNya, yang percaya dan yang menginginkannya dan mengandalkanNya.

Matius 19:26: Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”
Dan Allah sanggup memenuhi segala keperluanmu, Allah sanggup melakukan segala perkara bagimu dan memberikanmu jalan keluar, dan Allah sanggup memulihkan segala area di hidupmu dan Allah sanggup memberikan apa saja yang menjadi keinginan baik yang ada di hatimu.

Dan karna begitu besar kasihNya, Allah mau mewujudkan segala hal baik yang diinginkan hatimu. Seperti bapa sayang anaknya dan ingin membahagiakan anak-anaknya, demikianlah Bapa Surgawi kita, Dia sanggup, Dia mau, Dia akan memberikan yang terbaik demi kebahagiaanmu.

Amin