Novena Kanak-Kanak Yesus

Keajaiban Doa Novena Kanak Kanak Yesus dan Doa Mujizat

Keajaiban Doa Novena Kanak Kanak Yesus dan Doa Mujizat Mari kita bersama mendoakan Novena Kanak Kanak Yesus dalam menyambut kelahir...

Jumat, 28 November 2014

Session 6: Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest




Sesi  Ke-6

Rekan-rekan berikut ini saya kirimkan bahan doa pertemuan keenam. Topik doa kita: “Mengungkapkan Ketidaksetujuan dengan Allah.”

Sebagai persiapan doa, silahkan mengingat peristiwa atau pengalaman di mana Anda merasakan beban yang berat, beban yang semestinya tidak Anda tanggung, pengalaman di mana Anda tidak setuju dengan Allah atau ingin protes kepada-Nya, pengalaman di mana Anda menilai Allah tidak adil atau tidak peduli. 

Anda yang ingin berlatih kembali doa kontemplasi dapat menggunakan Kejadian 18: 16-13. Perikop ini menceritakan kisah kocak bagaimana Abraham tawar-menawar dengan Allah tentang apa yang Allah mesti perbuat terhadap kota Sodom dan Gomora.

Anda yang ingin berdoa dengan Mazmur dapat menggunakan Mzm 44: “Jeritan bangsa yang tertindas.”

Pertemuan keenam merupakan pertemuan terakhir kita. Namun saya masih akan terus mengirimkan bahan permenungan sampai seluruh tulisan Barry kita renungkan. Saya mengusulkan rekan-rekan tetap menggunakan hari Jumat pk 19.00 – 21.00 untuk berlatih doa secara pribadi maupun berkelompok. Apa akhir seluruh proses kita, kita akan membuat refleksi.


Salam
Marwan



 Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest Prayer (Chicago: Loyola Press, 2012)

by:  William A. Barry, SJ,

Mengungkapan Ketidaksetujuan dengan Allah

Kadang-kadang ketika sedang berdoa atau membaca Mazmur, saya bereaksi secara negatif. Saya akan berikan contoh.  Pada Ibadat Malam hari Minggu, Mazmur 91 didoakan.

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi
dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa
akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”
Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung,
dari penyakit sampar yang busuk.
Dengan kepakNya Ia akan menudungi engkau,
di bawah sayapNya engkau akan berlindung.
KesetiaanNya ialah perisai dan pagar tembok.
Engkau tak usah takut terhadap kedasyatan malam,
terhadap panah yang terbang di waktu siang,
terhadap penyakit sampar yang berjalan di jalan gelap,
terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.
Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,
tetapi itu tidak akan menimpamu.
Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri
dan melihat pembalasan terhadap orang-oran fasik.

Bagi saya kata-kata di atas tidaklah benar. Yesus adalah contoh tepat seorang adil yang tidak dilindungi dari panah-panah kemalangan. Banyak orang baik yang  diperlakukan dengan kejam tanpa diselamatkan oleh Allah dari kekejaman itu. Maka saya aku berkata kepada Allah bahwa saya tidak percaya pada Mazmur ini. “Aku percaya kepada-Mu bahwa Engkau akan menyelamatkan kami semua seperti  Engkau melakukan pada Yesus. Namun aku tidak percaya bahwa Engkau akan menghindarkan kami dari semua bahaya, paling terhadap bahaya sebagaiaman kami pahami. Anak-anak yang tidak berdosa dan orang-orang dewasa sangat menderita dan Engkau tidak campur tangan. Bukan hanya itu, tetapi aku tidak percaya bahwa Engkau akan membalikkan anak panah dariku atau orang lain, atau membiarkannya membidik orang lain karena Engkau lebih mencintaiku atau orang lain itu.  Aku tidak percaya Engkau bertindak seperti  itu. Apakah aku benar?Sejauh ini  saya belum mendengar bahwa saya salah.

Pendoa yang Salah Kaprah

Doa yang bagi orang lain sangat berguna bagi saya bisa jadi salah kaprah. Contohnya, beberapa tahun lalu seorang teman memberikan sebuah Doa dari seorang Yesuit Perancis. Judulnya Doa untuk Persahabatan.Dalam Doa itu saya diharapkan untuk meminta kepada Allah supaya menganugerahkan supaya saya dapat jujur pada temanku, tetapi tanpa berharap kasih sayang atau keramahan dari mereka. Maka jalannya doa tampaknya seperti ini: Saya akan berdoa agar saya dapat menjadi teman yang baik bagi orang lain, tetapi saya aku lebih suka jika mereka tidak memperlakukan saya sebagai teman. Dan memang doa itu meminta agar mereka memperlakukan saya dengan buruk. Saya menilai doa itu didasarkan atas pengertian atas permohonan Ignatius akan “kerendahan hati tingkat ketiga,” yaitu anugerah diperlakukan seperti Yesus diperlakukan namun tanpa membuat orang jatuh dalam dosa. Meskipun pada awalnya dipengaruhi oleh doa tersebut, segera saya menyadari bahwa saya tidak bisa, dengan hati nurani jernih, mendoakan Doa itu. Bagi saya ini merupakan suatu pengertian yang salah kaprah tentang maksud Ignatius. Saya katakan kepada Yesus bahwa saya akan meminta teman-teman saya untuk tetap sebagai anak spiritual dan manusiawi supaya saya dapat menjadi seperti Dia. Aku pikir Dia tidak berdoa seperti ini pada Bapa-Nya. Yesus sepertinya tidak mengatakan bahwa aku salah.

Satu contoh terakhir dan di sini saya menapaki tempat yang halus. Saya tak mau kedengaran seperti tidak menghormati Bunda Maria. Namun ini berkaitan dengan Doa Salve Regina,  Salam ya Ratu, suatu doa indah yang menjadi penutup Ibadat Malam di Gereja. Bahasa Latin dari doa ini dijadikan nyanyian yang saya senang menyanyikannya bersama-sama dengan yang lain. Tetapi pada suatu ketika saya mulai berpikir serius mengenai apa yang sedang saya ucapkan,“ Salam ya Ratu, Bunda yang berbelas kasih. Hidup hiburan dan harapan kami.” Saya berkata pada Bunda Maria,Yesuslah hidupku dan harapanku, Engkau adalah Bunda-Nya dan karena itulah, Aku sungguh sangat berterimakasih kepadamu. Aku mencintaimu, tetapi engkau bukanlah hidup dan harapanku. Semoga aku tidak menghina engkau.” Dan saya tidak merasa bahwa dia terhina.

Saya menunjukkan tiga contoh ini supaya engkau memperoleh kesempatan untuk berpikir bahwa engkau bereaksi kalau engkau tidak setuju dengan doa dalam liturgi dan dalam buku doa. Saya mulai yakin bahwa ketidaksetujuan atau ketidaknyamanan adalah sisi lain dari diri kita sendiri yang dapat kita ungkapkan kepada Allah, dengan harapan penuh bahwa Allah akan menerima bagian dari diri kita yang kita ungkapkan dengan hormat dan cinta dari seorang teman dan Allah dapat menunjukkan kita kalau kita salah kalau kita keliru.

Merasa diperlakukan dengan buruk oleh Allah

Pemazmur dapat tidak setuju dengan Allah. Mazmur yang telah kita baca sebelumnya adalah contoh yang tepat.   Mazmur ini adalah doa kepada Allah dari orang-orang  yang sedang dalam kesesakan besar. Jelas Pemazmur percaya bahwa penderitaan itu tidak adil dan berkata kepada Allah begitu dan meminta supaya Allah bertindak dan menyelamatkan mereka. Setelah mengatakan kepada Allah dengan teliti apa yang orang-orang dengar tentang pertolongan Allah bagi Bangsa Israel pada masa lalu, dia mulai menyalahkan Allah karena gagal melindungi bangsa itu pada masa sekarang, dan kemudian mengatakan  kepada Allah bahwa apa yang telah terjadi pada mereka itu tidak seharusnya.

Semuanya ini telah menimpa kami,
   tetapi kami tidak melupakan Engkau,
   dan tidak mengkhianati perjanjianMu.
Hati kami tidak membangkang ,
   dan langkah kami tidak menyimpang dari jalan-Mu.
Namun demikian, Engkau telah meremukkan kami di dalam mulut serigala,
   dan meyelimuti kami dengan kekelaman.
                                                           Mzm 44 :18-20

Mungkin teologi dari masa itu menganggap penderitaan dan kekalahan adalah tanda bahwa bangsa tersebut telah melangar perjanjian mereka dengan Allah. Pemazmuran tidak mau menerima ini. Dia mengatakan bahwa mereka menderita justru karena mereka setia. Maka dia menuduh Allah tidak setia pada perjanjan-Nya.

Engkau kadang-kadang dapat merasa Allah tidak adil kepadamu. Pernahkah engkau sampaikan kepada Allah, apa yang engkau rasakan? Maukah engkau mencobanya dan melihat bagaimana Allah menjawabnya?


Mengatakan kepada Allah bagaimana seharusnya menjadi Allah

Abraham dikenal oleh Bangsa Yahudi dan Muslim sebagai sahabat Allah. Tak heran bahwa salah satu cerita yang menggabarkan peristiwa berikut ini. Allah meninggalkan tempat pertemuan dekat pohon Oak di Mamre untuk melihat apakah Sodom dan Gomorah sejahat seperti yang dilaporkan. Allah berkata, Apakah Aku akan bersembunyi dari Abraham. Apakah yang harus Kulakukan?.... Tidak, karena Aku telah memilih dia.” (Kej. 18:17-18) Jadi Allah mengatakan kepada Abraham tentang rencana penghancuran kota-kota itu. Abraham mendekati Allah dan berkata:

 “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakah engkau mengampuninya karena ke lima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari padamu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari padaMu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (ayat 23-25)

Abraham mengajari Allah bagaimana seharusnya menjadi Allah. Itulah kedekatan yang terjadi dalam persahabatannya dengan Allah. Bagaimana Allah menanggapi? Bacalah cerita selanjutnya dalam Kitab Kejadian dan nikmatilah tawar-menawar yang penuh humor antara Abraham dengan Allah tentang berapa orang benar yang harus ada untuk menyelamatkan kota-kota itu. Jelas penulis kisah ini berpikir bahwa Allah menikmati keberanian Abraham dalam menantang Allah.

Yang dipertaruhkan di sini hanyalah kemauan kita untuk menceritakan kepada Allah kebenaran seperti yang kita lihat, dengan harapan kita diberi tahu salah jika memang kita salah.


Keraguan tentang Iman 

Kalau engkau seperti saya, engkau pasti mempunyai keraguan tentang iman. Di sini juga, kejujuran adalah pilihan terbaik bagi persahabatan kita dengan Allah. Kadang saya merasa Allah mungkin menjadi ciptaan dari kebutuhan saya sendiri. Kita, orang-orang beriman adalah bagian dari jaman sekular ini, yang mana entah itu baik atau buruk, iman tidak lagi diterima begitu saja. Kita mengenal orang-orang baik dan pandai yang tidak percaya pada Allah. Tidak heran bahwa kadang-kadang atau barangkali sering, kita menjadi ragu-ragu.

Seorang Jesuit muda mengikuti Latihan Rohani St Ignatius secara penuh selama tiga puluh hari. Pada suatu saat dia mulai ragu apakah semua yang Allah katakan itu hanyalah hasil dari imaginasinya belaka. Saya bertanya kepadanya, apakah ia benar-benar mau menjawab pertanyaan itu. Kami menduga bahwa musuh dari alamiah manusialah yang ada di belakang pertanyaan ini. Maksudnya bukanlah untuk sampai pada jawabannya, tetapi supaya dia diganggu oleh pertanyaan itu. Saya berkata, “Kalau ini hanya hasil dari imaginasimu, yang engkau perlukan hanyalah berkemas dan pulang. Kalau bukan, hal yang paling benar yang perlu engkau lakukan adalah terus berdoa”. Musuh dari kodrat manusia kita tak dapat lebih senang kalau kita terus memikirkannya dan tak pernah sampai pada putusan apa pun  juga. Perhatikan juga bahwa pertanyaan seperti itu menghalangi kita untuk berbicara dengan Allah.

Kalau saya ragu tentang keberadaan Allah atau tentang ajaran agama lainnya, saya berusaha jujur dengan Allah tentang hal itu. Saya mengatakan apa yang saya pikirkan. Yang terjadi kemudian adalah bahwa saya menyadari dengan lebih mendalam bahwa iman adalah hanya iman, bukan bukti. Beriman berarti menaruh kepercayaan pada apa yang tak terlihat. Saya selalu mengakhiri doa semacam itu dengan kepercayaan yang lebih mendalam kepada misteri yang kita sebut Allah dan menyadari bahwa sang misteri itu senang dengan kejujuranku.

Ketidaksetujuan dengan Yang berwenang Mengajar

Kita boleh tidak setuju dengan mereka yang mempunyai wewenang mengajar dalam gereja atau paling tidak mempertanyakan tentang penjabarannya. Kalau kita sendiri merasa marah atau tidak setuju dengan pengajaran tertentu, kita punya sesuatu untuk kita bicarakan dengan teman. Saya menganggap pembicaraan seperti itu memberi saya sudut padang lebih banyak terhadap masalah yang sedang saya hadapi dan juga membantu saya untuk memilah yang penting dengan yang tidak penting dalam pengajaran tersebut. Doa demikian juga membantu melibatkan saya dalam pembicaraan tentang pertanyaan yang dipermasalahkan dengan lebih penuh kasih bagi mereka yang tidak setuju dengan saya.

Apapun yang mengganggu kita dapat menjadi kesempatan untuk berdoa. Allah selalu tertarik dalam semua hal yang menyusahkan kita, dan saya percaya Allah senang dengan kemauan kita untuk terlibat dalam pembicaraan yang jujur tentang masalah yang kontroversial dan menyentuh kita. Pertumbuhan dalam persahabatan dengan Allah datang dari kejujuran dan mengungkapkan kebenaran dari pihak kita. Surat Pertama Yohanes  menulis:

Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; debab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.  1 Yoh 4:16-19

Aku percaya Allah kerja lembur untuk meyakinkan kita tentang kebenaran ini supaya kita menjadi sahabat Allah seperti Abraham dan lainnya. Janganlah kita takut untuk tidak setuju dengan Allah, atau paling tidak tentang apa yang kita pikir merupakan “kesalahan” Allah.  

  

Session 5: Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest Prayer


(Chicago: Loyola Press, 2012)

 by:William A. Barry, SJ,
7
Bercerita kepada Tuhan tentang Kepicikanmu

Jika engkau tidak pernah merasa iri terhadap orang lain, engkau beruntung. Kebanyakan orang tidak mengalami demikian. Banyak industri iklan sepertinya berpegang pada keyakinan bahwa rasa iri ada di mana-mana. Kepada kita ditampilkan orang  yang berpenampilan lebih menarik, lebih makmur, dan lebih bahagia dari kita untuk membujuk kita agar membeli produk yang membuat mereka lebih unggul. Iri hati mengerakkan ekonomi kita. Dan salah satu teori yang berpengaruh tentang kekerasan berpendapat bahwa kita belajar untuk menginginkan sesuatu dengan meniru orang lain; karena mereka menginginkan sesuatu, kita pun menginginkannya dan akan menggunakan segala daya untuk mendapatkannya, termasuk kekerasan. Iri hati mungkin menjadi sesuatu yang berpengaruh pada dirimu. Maukah engkau mengakuinya di hadapan Tuhan?

Tidak mudah. Tak seorang pun dari kita suka mengakui bahwa kita iri terhadap orang lain karena hal itu membuat kita merasa picik dan egois. “Aku harus bahagia, bukannya iri hati, ketika orang lain, khususnya teman-temanku bahagia” Teman-teman dekatku akan pikir apa tentang akau jika aku mengatakan kepadanya bahwa aku iri kepadanya? Kita tidak ingin tampak picik dan egois di mata orang lain. Namun, jika kita jujur, kita pasti mengakui bahwa kita sering picik dan iri kepada orang lain. Dapatkah kita mengatakannya kepada Tuhan?

Mazmur 73
Pemazmur telah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya,
      bagi mereka yang bersih hatinya.
Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset,
      nyaris tergelincir.
Sebab aku cemburu pada pembual-pembual,
      kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
Sebab kesakitan tidak ada pada mereka,
      sehat dan gemuk tubuh mereka;
mereka tidak mengalami kesusahan manusia
      dan tidak kena tulah seperti orang lain.
                                                        Ayat 1-5

Engkau dapat membayangkan bahwa dia sedang melihat tayangan televisi tentang tentang orang sukses yang dipuji-puji. Apakah engkau mendapati dirimu pada baris-baris tersebut mengenali dirimu saat engkau membacanya? Jika engkau merasa demikian, apakah engkau mulai berdoa seperti yang pemazmur lakukan? Setelah pembukaan doa itu pemazmur berlanjut dengan mengatakan kepada Allah bagaimana sombong dan kejam orang-orang itu, namun mereka makmur dan dipuji-puji banyak orang. Kemudian pemazmur mengatakan:

Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih,
       dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
Namun sepanjang hari aku kena tulah,
      dan kena hukuman sepanjang pagi.
                                                                Ayat 13-14
                                                                                                                                      
Pernahkan engkau merasakan hal demikian – bahwa engkau telah melakukan semua hal yang benar tetapi tidak memperoleh apa-apa sebagai ganjarannya? Pemazmur bersedia menceritakan kepada Allah perasaannya yang sebenarnya , karena itu ia mengatakan, “Aku melakukan semuanya dengan benar dan tidak memperoleh apa-apa selain rasa sakit.” Sekarang lihat apa yang terjadi, apa buah dari kejujuran ini:

Ketika aku hatiku merasa pahit
      dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,
aku dungu dan tidak mengerti,
      seperti hewan aku di dekat-Mu.
Tetapi aku tetap di dekat-Mu.
      Engkau memegang tanganku.
Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku,
      dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemulian.
Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau?
      Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.
Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap,
      Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
                                                                                    Ay 21-26

Dia tampaknya telah mampu berdamai dengan siatuasi yang dihadapi karena ia bersedia jujur kepada Tuhan. Dia menyadari bahwa Allah bersama dengannya, dan itu cukup baginya. Sepertinya iri hatinya lenyap dalam aliran doa yang jujur ini.

Pergilah dan Lakukan Demikian

Iri hati hanyalah salah satu dari contoh dari banyak kepicikan lain yang ada dalam batin kita. Kita juga suka merendahkan orang lain, mengumpat, memikirkan diri sendiri semata dan merasa diri paling sengasara. Kita menjadi marah karena pasangan yang sakit atau teman kita sakit – marah karena pasangan sakit dalam kondisi sekarat dan dengan penuh kesakitan ingin mati saja atau ketika seorang teman dengan sakit Alzheimer terus mengajukan pertanyaan yang sama. Ketika kita menjadi sadar akan kepicikan kita itu, kita membeci diri kita. Tetapi seberapa sering kebencian macam itu membuat hati berubah? Jarang, sejauh pengalaman saya. Sering kali, ketika saya mengeluh karena kegagalan saya untuk menjadi orang yang baik, saya justru akan menyalahkan diri sendiri, dan tidak terjadi perubahan hati. Keadaan batin saya tetap tertutup. Menyalahkan diri membuat saya berpusat pada diri sendiri. Bahkan kalau pun sekarang saya menyerang diri saya sendiri, fokus tetap ada pada diri saya. Jika ini terjadi, roh jahat bersorak-sorai. Tidak ada perubahan dan fokus tetap pada diri saya, bukan pada Tuhan. Apakah hal semacam ini benar juga untuk dirimu? Kita dapat belajar banyak dengan meneladan pemazmur.

Dia mengungkapkan kebenaran kepada Tuhan: dia iri kepada orang fasik karena mereka tampak sejahtera sementara dia tidak. Ketika dia menuangkan kepicikannya dalam doa, hal positif terjadi; fokus beralih dari diri sediri kepada Tuhan. Hasilnya, dia merasakan kedamaian dan kita mengandaikan terjadi perubahan dalam batinnya. Saya telah mendapati bahwa mengungkapkan kepada Allah tentang perasaan seperti itu dan memohon pertolongan agar kita dapat meninggalkan perasaan itu, mengubah fokus dari diri saya sendiri kepada Allah dan, dalam prosesnya, membawa transformasi batin. Dengan rahmat Tuhan saya menjadi tidak begitu iri hati, tidak begitu picik, tidak begitu menyalahkan diri.

Lagi dan lagi kita menemukan bahwa mengungkapkan kebenaran kepada Allah, betapa pun kebenaran itu tidak mengenakkan dan memelukan, menarik kita dari keterserapan-diri (self-absorption) dan kepicikan serta mengantar kita bergerak untuk menjadi citra Allah sebagaimana dicita-citakan Allah saat menciptakan kita. 

Selasa, 18 November 2014

Temukan jalan keselamatanmu didalam Yesus.....

https://www.youtube.com/watch?v=Ro91yNBfhSY
 
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yohanes 14:6)

Session 4: Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest Prayer

Session 4: Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest Prayer


Pesan Romo:


Rekan-rekan berikut ini saya kirimkan bahan doa pertemuan keempat. Mohon maaf pengiriman terlambat.
Sebelumnya,  saya ingin menyampaikan himbauan: agar buah dari latihan doa ini berlimpah, Anda perlu melakukan latihan ulangan secara pribadi dengan waktu yang sudah ditentukan sejak awal.

Topik permenungan kita kemarin adalah menceritakan “rahasia kita” kepada Tuhan. Semoga latihan ulangan ini sudah dilaksanakan.

Berikut ini beberapa pertanyaan standar yang mungkin membantu untuk merefleksikan pengalaman Latihan Ketiga:

1.      Teks Kitab Suci apa yang Anda gunakan sebagai penolong dalam doa ini?
2.      Rahasia apa yang Anda ceritakan kepada Allah?
3.      Apakah Anda merasa mudah atau sulit menceritakan itu?
4.      Apa yang Anda rasakan sebelum, saat dan setelah Anda menceritakan ketakutan itu?
5.      Menurut pengamatan Anda apa tanggapan Allah terhadap ceritamu?
6.      Apakah ada pemahaman baru tentang diri dan tentang Allah yang Anda peroleh dari doa ini?
7.      Apakah Anda merasa terdorong melakukan sesuatu setelah doa ini?
8.      Silahkan catatat hasil latihan Anda dalam buku jurnal.

  Sekarang tentang bahan latihan kita untuk pertemuan keempat. Topik latihan kita “bercerita kepada Allah tentang Keberhasilan kita.”  Bacaan dari Injil akan kita pergunakan untuk latihan doa kita nanti pertemuan nanti Luk 10: 1-24. Dalam Latihan Doa kita, selain kita akan berlatih bercerita secara jujur kepada Allah, kita juga akan berlatih berdoa komtemplasi Ignasian.


Salam

Marwan

 ===========================================


Bercerita kepada Tuhan tentang Keberhasilanmu

Ketika mengalami sesuatu yang baik, biasanya kita ingin menceritakannya kepada seorang teman, kecuali kita menahan diri karena alasan tertentu. Seberapa sering terpikir di benak kita untuk menceritakan hal serupa kepada Tuhan? Tidak begitu sering, paling tidak kalau menggunakan diri saya sebagai ukuran. Namun mungkin hal ini justru salah satu yang semestinya mucul dalam pikiran jika kita menjalin persahabatan dengan Tuhan secara serius.

Marilah kita lihat kisah tujuh puluh murid yang diutus untuk melaksanakan suatu tugas perjalan oleh Yesus (Luk 10:1-24). Ketika tugas mereka telah selesai, tujuhpuluh murid kembali dengan sukacita dan berkata, “Tuhan, demi nama-Mu semua roh jahat tunduk kepada kami” (ayat 17). Lihatlah, meskipun sadar bahwa mereka dapat melakukan hal itu karena Yesus, mereka tetap bersemangat untuk menceritakan kepada-Nya tengan apa yang telah mereka lakukan: “roh-roh jahat tunduk pada kami.” Mereka tahu bahwa dalam nama Yesuslah mereka mengusir roh-roh jahat, namun pengetahuan ini tidak menghilangkan sukacita mereka karena roh-roh jahat itu tunduk pada mereka. Tampaknya Yesus pun ingin menggarisbawahi dua sisi sukacita mereka, karena Ia menjawab:

Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. (ayat 18-20)

Saling dukung dalam persahabatan

Agar tetap ada, khususnya untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna, kita bergantung setiap saat pada hasrat kreatif dan penyelenggaraan Tuhan. Bagi para murid hal ini berarti bahwa mereka mengatasi roh-roh jahat berkat kuasa Tuhan. Namun kebenaran ini tidak menghilangkan kebenaran lain, yaitu bahwa para muridlah yang telah bertindak penuh kuasa terhadap musuh. Jelas pula bagi Yesus bahwa para murid dan Yesus pada kesempatan ini mempunyai tugas bersama; para murid pun diperlukan bagi keberhasilan misi ini. Lukas selanjutnya menggambarkan sukacita dan puji syukur Yesus:

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya." (ayat 21-24)

Jika para murid merasa enggan menceritakan kepada Yesus betapa mereka bahagia karena keberhasilan perutusan mereka, mereka mungkin tidak berkesempatan untuk mendengarkan sukacita Yesus sendiri atas apa yang telah mereka lakukan dalam nama-Nya.

Keengganan

Tetapi sering kali kita enggan atau malas untuk menceritakan keberhasilan kita, bahkan kepada sahabat kita. Kadang-kadang kita ragu bercerita karena kita takut jangan-jangan teman kita itu akan menjadi iri atas keberhasilan kita atau akan merasa rendah diri dari kita. Atau mungkin ia akan menanggapi bahwa keberhasilan kita itu tidak penting dan bukan apa-apa. Kadang-kadang kita takut terlihat bangga akan keberhasilan kita. Kadang kita ditarik mundur oleh ingatan luka pada masa lalu, situasi di mana kita mencoba menceritakan keberhasilan kita tetapi malah mendapat tanggapan dingin, kritis atau diwarnai kemarahan. Misalnya, engkau mendapat kenaikan jenjang pada pekerjaan dan menceritakan kepada seorang teman yang menanggapi, “Itu sih bisa saja, hanya kenaikan kecil.” Maka ada banyak kemungkinan sumber untuk ragu-ragu bercerita kepada seorang teman tentang kesuksesanmu.

Kita boleh saya ragu untuk berbicara tentang keberhasilan karena kita hidup di dunia yang penuh persaingan di mana keberhasilanku diartikan sebagai kegagalamu. Salah satu pengandaian dibalik cara pikir itu adalah bahwa tidak cukup banyak kesempatan untuk diraih. Hanya ada satu juara dalam wisuda, hanya satu pemenang  dalam Indonesia Mencari Bakat, satu juara dalam Indonesia Indol. Kalau aku menang, berarti kamu kalah. Keberhasilan seseorang berarti kegagalan orang lain.

Namun bagi Tuhan tidak berlaku aturan macam itu. Karena kemurahan Tuhan, tersedia ruang yang cukup bagi setiap orang untuk melakukan sesuatu dengan baik, untuk berhasil, untuk menikmati kelimpahan hidup. Semakin kita mampu berbuat dalam terang kemurahan Tuhan, semakin kita hidup dalam kerangka pikir bahwa tersedia cukup bagi semua orang, semakin bebas kita berbicara tentang keberhasilan – dan semakin kita membuat orang lain bebas melakukan hal serupa.

Tidak ada alasan untuk menahan diri bercerita kepada Tuhan tentang kegembiraan kita, hal yang menyenangkan kita, keberhasilan kita dalam hidup. Kita tidak bersaing dengan Tuhan. Tuhan tidak melihat kita sebagai saingan. Dengan menceritakan kepada Yesus sukacita mereka, para murid justru memberi kesempatan kepada Yesus untuk bersukacita bersama mereka dan mengajarkan kepada mereka sesuatu tentang hubungan-Nya dengan Bapa dan tentang cara berpikir Tuhan.

Contoh dari Mazmur
Beberapa Mazmur tercipta dari sukacita atau keberhasilan pemazmuar maupun umat. Misalnya, Mazmur 87 memuji keagungan kota Yerusalem (Zion). Mungkin Mazmur ini dinyanyikan pada upacara perayaan Yerusalam sebagai kota Allah. Tentu saja pemazmur mengasalkan keberhasilan kota dan umat kepada Allah, namun tentu saja dia juga senang akan kemuliaan kota itu sendiri sebagai tanda keberhasilan umat:


Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:
TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.
Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.

Aku menyebut Rahab dan Babel di antara orang-orang yang mengenal Aku, bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia: "Ini dilahirkan di sana."
Tetapi tentang Sion dikatakan: "Seorang demi seorang dilahirkan di dalamnya," dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
TUHAN menghitung pada waktu mencatat bangsa-bangsa: "Ini dilahirkan di sana." Sela
Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai: "Segala mata airku ada di dalammu."

Jelaslah bahwa pemazmur bangga akan Yesusalem. Dia bangga bahwa orang berbicara tentang orang yang lahir di sana, bahwa kota itu dikagumi oleh negeri tetangga, bahkan juga oleh musuh. Saat menghitung kemuliaan ini, pemazmur tidak lupa bahwa keberpihakan Allahlah yang membuat semua itu mungkin. Bisa jadi menceritakan kepada Allah tentang kembanggaan akan kotanya ini membuat pemazmur semakin sadar akan kebenaran, yaitu bahwa segalanya tergantung pada Allah. Namun bagaimana pun dia tetap menceritakan kepada Allah tentang kebahagiaannya.

Apakah ada sesuatu yang serupa dalam hidupmu? Mungkin engkau baru saja menerima majalah alumi dari sekolahmu dan membaca bahwa seorang teman sekelasmu memenangkan Pulitzer dalam jurnalisme atau yang lain memperoleh penghargaan karena bekerja dengan tunawisma. Engkau bangga berasal dari sekolah itu. Engkau dapat bercerita kepada Tuhan apa yang engkau rasakan dan perhatikan apa tanggapan Tuhan terhadapmu.

Keberhasilanmu pada suatu usaha dapat juga menjadi pokok pembicaraan, atau sukacitamu akan keberhasilan seorang teman atau anggota keluarga. Itu semua adalan cara lain, cara yang lebih mudah, untuk menceritakan kebenaran kepada Tuhan. Doa macam itu membuat kita tetap menjejak pada realitas, yaitu ketergantungan kita pada Tuhan, dan hal ini mengantar kita untuk lebih mudah masuk dalam doa syukur.

Kamis, 06 November 2014

Session 3: Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest Prayer

Session 3: Praying The Truth. Deepening Your Friendship with God through Honest Prayer 

By: William A. Barry, SJ,(Chicago: Loyola Press, 2012)

Bagaimana Rahasia Meracuni Persahabatan

Pada akhir Bab 1 saya mengutip komentar Richard Russo bahwa kejujuranlah dasar persabahatan, bukan kehati-hatian. Dalam Bab ini saya ingin merefleksikan bagaimana rahasia dapat meracuni persahabatan, dan bahkan kewarasan.

Bahaya dari Rahasia

Salah satu slogan dari Alcoholics Anonymuous[1] adalah: “Kita sakit hanya sejauh kita menutup rapat rahasia.” Pada akhir dari banyak pertemuan pemimpin pertemuan mengatakan: “Apakah ada yang tergoda untuk minum pada hari ini?” Hal ini memberikan kesepatan kepada mereka yang hampir “keluar jalur” untuk mengatakan di hadapan umum bahwa mereka tergoda dan karena itu memberikan kesempatan kepada pendengar untuk memberikan dukungan. Disiplin spiritual pada A.A. meminta setiap anggota untuk membiarkan rekan lain tahu mana kala mereka dalam bahaya kembali untuk meneguk alkohol. Banyak dari antara 12 Langkah dalam A.A. sebenarnya adalah bagian dari disiplin spiritual untuk menjadi semakin transparan dan jujur sehingga kita dapat menyerahkan kepada Allah hidup yang tak mampu kita atur dan menjadi waras. Rahasia mengancam kewarasan para pemabuk.

Waras berarti bahwa kita bersentuhan dengan realitas. Bagi para pemabuk, realitas adalah bahwa dia tidak mampu minum secara bertanggung jawab, tidak mampu mengontrol dorongan untuk terus minum begitu tegukan alkohol pertama dilakukan. Mengikuti dorongan untuk menjaga rahasia bisa jadi membawanya kembali pada keyakinan tidak waras bahwa pemabuk dapat minum secara bertanggung jawab.

Saya percaya bahwa rahasia serupa mengancam kewarasan kita untuk sungguh melepaskan diri dari pokok persoalan yang membuat kita kecanduan. Ketika saya sebagai seorang psikoterapis, sering menjadi jelas bahwa di balik kebiasaan neurotik dari seorang klien ada rasa malu atau peristiwa rahasia. Kadang-kadang peristiwa itu sangat traumatis sehingga tidak tersadari dan membuatnya menjadi peristiwa rahasia bagi orang yang telah dipengaruhi olehnya. Namun kadang-kadang peristiwa itu diketahui oleh orang bersangkutan dan usaha untuk tetap menjaganya sebagai rahasia menyembabkan munculnya kebiasaan neurotik atau memperparah kebiasaan itu atau membuat dia menyalahkan diri.

Saat kita belajar lebih banyak tentang krisis pelecehan-seksual di Gereja Katolik Roma akhir-akhir ini, tampaknya beberapa pemimpin gereja merasa bahwa mereka harus menjaga nama baik gereja atau kongregasi religius dengan mencoba menjaga rahasia tentang kengerian pelecehan seksual atas anak-anak dan remaja. Hal ini mengakibatkan bencana bagi mereka yang dilecehkan, bagi yang melecehkan, dan bahkan bagi institusi yang ingin mereka lindungi. Dilihat lagi ke belakang, mereka mungkin menyimpulkan bahwa apa yang tampak sebagai pendekatan yang waras sesungguhnya tidak menapak pada kenyataan. Mungkin engkau ingat peristiwa dalam hidupmu ketika rahasia telah menyebabkan timbulnya kebiasaan yang tidak menapak pada kenyataan.

Pernahkan engkau melihat apa yang terjadi ketika sebuah keluarga atau komunitas tidak bersedia untuk membicarakan persoalan penting? Sebuah komunitas kongregasi religius dapat pelan-pelan menjadi karikatur dari English man’s club, di mana tak seorang pun berani mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan menganggu rutinitas, bahkan ketika dalam rutinitas itu terkandung kebiasaan yang aneh dan tak sehat dari beberapa anggota. Orang akan sulit percaya melihat komunitas semacam itu sebagai perkumpulan dari pada sahabat Yesus.

Saya juga telah melihat bagaimana ketidakmampuan untuk menghadapi gajah di ruang tamu dapat mereduksi sebuah keluarga menjadi formalitas dan berlebihan menekankan kesopanan. Misalnya, semua orang tahu bahwa June depresi kronis, atau bahwa Joe pemabuk yang bermasalah, tetapi tak seorang pun berani untuk mengatakan atau melakukan sesuatu untuk menjawab persoalan itu. Mungkin beberapa orang saling berbisik satu sama lain tentang situasi itu, tetapi tak satu tindakan pun dilakukan untuk mengatasinya. Benar bahwa kesopanan lebih baik daripada kekerasan yang tak terkontrol, namun engkau tidak akan melihat sebagai sesuatu yang ideal bagi sebuah keluarga di mana kesopanan dan kehati-hatian mengalahkan kejujuran dan persahabatan yang tulus. Kehidupan komunitas yang hidup bercirikan percakapan yang jujur, tidak hanya tentang dunia luar, melainkan juga tentang interaksi antaranggota komunitas.

Setelah semua itu dikatakan, kita mesti ingat bahwa pengungkapan kebenaran dapat tidak terkendali. Dua belas langkah dalam program A.A. mengandaikan bahwa apa yang dikatakan dalam pertemuan akan dipegang sebagai rahasia oleh mereka yang hadir. Jika engkau ingin mengungkapkan kecanduanmu akan alkohol, itu adalah satu hal; namun tak seorang pun berhak untuk menceritakan bahwa engkau seorang pemabuk. Kadang-kadang pengungkapan kebenaran dapat menjadi alasan serangan pribadi yang kejam. Di Amerika Serikat, paling sedikit, ada hasrat tidak sehat untuk berburu rahasia tokoh publik untuk menjatuhkannya. Sangat sulit bagi seorang figur publik memiliki kehidupan pribadi yang tidak terjangkau oleh wartawan dan kamera. Dan keinginan beberapa orang untuk menyiarkan rahasia terburuk mereka pada talk show dan acara televisi menjadi ajang pamer. Akhirnya, ada rahasia yang mesti dijaga, bahakan dari teman terdekat kita, karena rahasia itu telah dipercayakan kepada kita oleh seseorang yang berharap kita tidak akan menceritakannya kepada siapa pun.

Apakah kita harus menceritkan kepada teman kita segala sesuatu? Tentu saja tidak. Tetapi jika kita mempunyai rahasia yang menganggu saya sementara saya bersama dengan seorang teman dekat, teman tersebut akan merasakan ada sesuatu yang salah. Paling tidak saya dapat mengatakan kepada teman saya bahwa sesuatu yang menggangu saya, sesuatu yang tidak dapat saya ceritakan, adalah sesuatu yang tidak ada urusannya dengan kita. Hal ini akan memberikan kelegaan, paling tidak jika teman saya adalah seorang teman sejati.



Rahasia dan Yang Memalukan

Apa yang membuat rahasia berbahaya bagi kewarasan dan persahabatan? Paling sering, rasa malu. Pada pertemuan A.A., mereka yang tergoda untuk minum mungkin malu untuk mengatakannya, merasa bahwa orang lain akan menaruh kasihan kepadanya. Seorang sponsor dari pemabuk mungkin akan malu untuk menerima godaaan di hadapannya karena takut kehilangan otoritas atas mereka. Jika saya merasa bahwa alkoholisme atau depresi itu memalukan, saya mungkin akan sulit untuk menamai realitas tersebut dalam salah satu anggota keluargaku atau komunitasku dan akan sulit juga mencoba untuk membantunya.

Perasaan malu dapat datang dari berbagai sumber. Orang dapat malu karena tubuh mereka. Misalnya, malu karena mereka terlalu gemuk atau terlalu kurus, terlalu pendek atau terlalu tinggi, bentuk tubuh atau warna kulit tidak ideal. Dalam budaya yang mengagung-agungkan seks, perempuan dapat malu karena ukuran payudara mereka, laki-laki malu karena ukuran penis mereka. Beberapa orang malu karena lahir dalam keluarga miskin dan berpendidikan rendah; yang lain malu karena orangtua bercerai atau tertimpa skandal. Saya yakin engkau dapat memperpanjang daftar ini.
Apa pun yang mempuat kita malu, kita mencoba untuk menjadikannya rahasia, bahkan kepada teman terdekat kita. Dalam novel Russo That Old Cape Magic, Jack Griffin malu karena orang tuanya dan mencoba untuk mencegah istrinya, Joy, ikut terlibat dalam apa yang ia pikirkan sebagai merendahkan diri saat bergaul dengan orang lain. Ketika ibunya menelpon, ia membawa telpon itu ke ruangan lain sehingga Joy tidak akan mendengar. Tetapi orang tuanya menerobos dalam perkawinan itu karena mereka menghantui pikiran Jack sepanjang waktu. Joy merasa tidak dilibatkan dalam bagian penting hidup Jack. Rahasia meracuni hubungan mereka. Saya tidak ingin menganggu bacaanmu dengan mengatakan lebih banyak mengenai novel yang bagus ini, tetapi Russo tahu bahwa kejujuran adalah dasar persahabatan.

Ketika sebuah topik yang menyentuh rasa malu kita muncul dalam percakapan, kita cenderung untuk mengubah topik atau menghentikannya. Sering dalam situasi macam itu percakapan menjadi lebih terbatas areanya karena begitu banyak topik menyentuh rasa malu satu sama lain. Percakapan dapat menjadi datar dan tidak menarik bagi orang yang terlibat. Rahasia dapat menjadi racun pertubuhan persahabatan.

Beban Terangkat

Apa yang terjadi ketika kita menceritakan rahasia yang membuat kita malu? Ketika orang pada pertemuan A.A. mengakui bahwa mereka tergoda untuk minum pada hari ini, godaan itu tampaknya berkurang.  Anggota lain dalam kelompok pun mendekat untuk mengucapkan terimakasih atas kejujuran mereka dan menawarkan bantuan. Seorang perempuan mengatakan kepada saya betapa melegakan bercerita kepada orang pada pertemuan A.A. apa yang sesungguhnya ia rasakan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengatakan apa yang sungguh ia rasakan dan didengarkan dengan penuh empati dan pemahaman. Sekadar menceritakan yang sebenarnya dalam situasi yang demikian sudah membebaskan dan menghidupkan. Bentuk pengungkapan kebenaran semacam ini menyebar ke seluruh dunia dalam berbagai variasi pertemuan Duabelas Langkah. Orang menceritakan kebenaran dan menemukan jalan menuju kewarasan dari kecanduan mereka atau dari kehancuran akibat kecanduan orang yang dicintai dan menemukan kemampuan untuk menjalin persahabatan yang mendalam.

Rahasia dan Persahabatan dengan Tuhan
Beberapa hal yang membuat kita malu dapat muncul juga dalam persahabatan kita dengan Tuhan. Persahabatan dengan Tuhan berkembang bertahap. Pertama engkau mendapati bahwa engkau tertarik pada Tuhan, dan engkau ingin tahu lebih banyak tentang Dia. Bersamaan dengan engkau tahu kemurahan Tuhan menciptakan dunia dan dirimu, engkau mendapati diri gembira dan senang berdoa. Namun setelahnya engkau mulai bertanya-tanya, Hal macam ini cocok untuk orang kudus, tetapi mungkinkah ini terjadi padaku? Engkau teringat akan hal-hal yang membuatmu malu. Engkau berpikir, Tuhan tahu segalanya. Maka Dia tahu bahwa aku (seorang homoseksual, anak dari orangtua yang bercerai, seseorang yang menyontek dalam ujian, atau apa pun). Aku gila jika mengira bahwa Tuhan menginginkan persahabatan denganku. Pada titik itu engkau mungkin tergoda untuk berhenti berdoa, merasakan bahwa engkau tidak pantas untuk menjadi sahabat Tuhan. Tetapi lihatlah bahwa dalam skenario yang telah saya jelaskan, engkau belum berbicara secara terbuka kepada Tuhan tentang apa yang membuatmu malu.

Engkau mungkin ingin mengatakan, “Tapi Tuhan telah tahu segala sesuatu tentang aku. Aku tidak perlu mengatakan kepada-Nya apa yang membuat aku malu.” Ini tidak tentang informasi yang mungkin sudah dimiliki oleh Tuhan; ini adalah tentang apakah engkau cukup percaya kepada Tuhan sehingga engkau berani mengatakan apa yang ada dalam hati dan pikiranmu dan menunggu tanggapan-Nya. Engkau tidak cemas tentang informasi yang dimiliki Tuhan, tetapi tentang reaksi Tuhan atas informasi itu. Maka, sebagai seorang sahabat, satu-satunya cara untuk maju adalah mengambil risiko dengan mengatakan kepada Tuhan dan melihat apakah persahabatan ini akan berlanjut. Yang dipertaruhkan adalah perkembangan persahabatan dengan Tuhan. Lihatlah bahwa dalam skenario saya, engkau tergoda untuk berhenti berdoa karena engkau merasa tidak pantas.

Jika engkau tidak mengatakan kepada Tuhan apa yang engkau cemaskan, hubunganmu akan semakin formal dan, kalau mau jujur, membosankan. Suatu ketika saya mendapati diri agak bosan selama sesi bimbingan rohani dengan seorang pastor. Ketika saya melihat kembali pada kebosanan saya itu, saya menyadari bahwa sebelum ini saya telah sangat menantikan kedatangannya. Saya pun bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Karena saya mempunyai hubungan yang sangat baik dengannya, saya perlihatkan bahwa saya merasakan percakapan kami agak membosankan. Terungkaplah bahwa ia tidak berdoa karena ada sesuatu yang membuatnya malu untuk diungkapkan kepada Tuhan. Seperti dengan sahabat mana pun, soalnya adalah kepercayaan, kepercayaan bahwa Tuhan sungguh tertarik untuk bersahabatan dengan orang “seperti kita”, yaitu, dengan kita dengan segala kekurangan dan kelemahan serta hal memalukan lain yang membuat kita merasa tidak pantas untuk menjadi sahabat bagi Tuhan – atau bagi siapa pun. Jika kita tidak mengambil kesempatan untuk jujur, kita tidak akan sungguh tumbuh dalam persahabatan dengan Tuhan atau dengan orang lain.

Tuhan Menghela Nafas Lega

Ketika orang jujur kepada Tuhan tentang hal yang memalukan pada masa lalu atau sekarang, mereka mungkin merasa Tuhan menarik nafas lega. “Akhirnya, engkau mengeluarkan itu dari dadamu. Sekarang kita dapat melangkah maju. Terimakasih atas kepercayaanmu.” Mereka mungkin tidak mendengarnya dalam rupa kata-kata seperti itu, tetapi dalam rasa lega yang mereka alami . Mereka telah membiarkan kuncing keluar dari karung dan langit tidak runtuh. Mereka mungkin juga merasakan semacam ini dari Tuhan: “Aku menciptakan engkau karena cinta; tak sesuatu pun yang engkau lakukan yang akan mengubah cinta itu. Secara bertahap engkau semangkin mengenal siapakah Aku sesungguhnya.” Kita telah diantar kembali kepada kewarasan.

Kewarasan, engkau lihat, berisi intuisi bahwa Allah mencintaiku, dengan segala kelemahan an kekurangan, dan tak sesuatu pun perbuatanku akan mengubah cinta Tuhan kepadaku. Adalah tidak waras berpikir bahwa cinta Tuhan tergantung pada kenyataan diriku. Ketika aku ragu-ragu atau menolak untuk mengatakan kepada Tuhan hal yang membuatku malu karena aku merasa tidak pantas menjadi sahabat-Nya, aku membuat diriku menjadi hakim atas siapakah Tuhan itu. Dengan kata lain, Tuhan bagiku adalah Pribadi yang tidak menyukai orang semacam diriku. Bukankan itu sungguh tidak waras? Ketika kita mulai merasa bahwa cinta Tuhan yang tak bersyarat dan percaya akan hal itu, kita mulai percaya kepada Tuhan, bukan pada ilah hasil imajinasi kita. Maka, kewarasan, iman dan persahabatan dengan Tuhan berjalan bersama. Semuanya ini diperkuat oleh pengungkapan kebenaran dan kejujuran.

Saya berharap engkau setuju dengan saya bahwa rahasia dapat melukai persahabatan. Jika engkau tidak percaya, buku ini tidak akan masuk akal bagimu. Saya percaya bahwa persahabatan dengan Tuhan bertumpu pada dasar yang sama yang berlaku untuk setiap persahabatan. Kita memperdalam persahabatan kita dengan Tuhan lewat mengungkapkan diri secara bertahap yang melepaskan kita dari rahasia yang mengungkung dan membebaskan kita tidak hanya untuk persahabatan yang lebih dalam dengan Allah melainkan juga untuk menjalani hidup yang berkelimpahan (Yoh 10:10).

Latihan:
Datanglah kepada Tuhan dan ungkapkan rahasia dirimu: apa yang membuatmu malu, takut atau khawatir di hadapan Tuhan.


[1] Komunitas orang para pencandu alkohol yang melakukan terapi bersama dengan cara berkumpul dan saling menceritakan harapan dan perjuangan mereka untuk berhenti mengkonsumsi alkohol. Satu sama lain mereka tidak saling tahu namanya dan satu sama lain saling mendukung dan menimba kekuatan dari pengalaman rekan lain.

ULANGAN =


Ulangan adalah sebuah cara yang penting untuk mencermati gerak batin dalam hati kita untuk kemudian mengenal apa yang ditunjukkan Roh Tuhan. Ignatius menekankan pentingnya ulangan ini baik selama retret maupun dalam doa harian.

Ulangan BUKAN:

  • Mengulang bahan doa seperti seorang yang mengulang bahan pelajaran untuk lebih mendalaminya.
  • Mengulang bahan doa yang sama untuk memperoleh hal yang baru atau berbeda.
  • Mengulang seluruh bahan dari doa sebelumnya.

Ulangan ADALAH:

  • Mengulang pokok-pokok “di mana kurasakan hiburan atau kesepian yang lebih besar, atau pengalaman rohani yang lebih besar”. (LR 62) Saya mengulang pokok-pokok di mana kualami gerak-gerak batin yang penting; tidak mengulang seluruh perikop; juga tidak mengulang perikop yang sejajar dari Injil lain. Tetapi kuulangi pengalaman-pengalaman yang kuat menyentuhku dan lebih penting lagi kuulangi pokok-pokok dari bahan doa atau bagian dari Kitab Suci di mana pengalaman yang menyentuh itu terjadi.

 Beberapa Contoh

  • Dalam refleksi doa Perjamuan Malam Terakhir, kusadari bahwa aku begitu terserap saat aku menyembah sakramen. Juga kusadari aku mengalami kesulitan merenungkan tokoh-tokoh yang hadir dalam Perjamuan itu. Dalam doa ulangan aku akan kembali masuk pada dua pengalaman tersebut.
  • Saat refleksi atas kontemplasi Pembaptisan Yesus, kusadari bahwa aku berada bersama Yesus yang memunggungiku dan aku merasa sedih. Dalam doa ulangan, aku masuk lagi ke pengalaman ketika Yesus membalikkan tubuhNya dan ke pengalaman ketika aku merasa sedih.
  • Dalam refleksi atas doa hidup tersembunyi Yesus, kurasakan diriku gelisah, penuh lanturan dan kecemasan. Maka aku mengulang bahan doa itu.
  • Kurenungkan dosa-dosaku dan aku mohon rahmat atas kecenderungan kedosaan dalam diriku yang mempengaruhi keputusan-keputusanku. Dalam refleksi kutemukan bahwa Roh ingin menunjukkan hal lain lebih dalam. Maka kuulangi bahan ini.


Manfaat ulangan pada dasarnya adalah membantu orang lebih dalam mengenal dan mendengar sapaan Allah

  • Ulangan  memberi kesempatan agar gerak roh terjadi. Tujuan doa harian dan doa dalam retret terbimbing adalah untuk berdiskresi tentang gerak-gerak roh dan ulangan akan membantu gerak-gerak roh itu muncul dan lebih terasa. Kalau orang terburu-buru pindah dari satu perikop ke perikop lainnya walaupun dengan tema yang sama, dia akan cenderung meninggalkan atau kurang menyadari gerak-gerak roh yang penting.
  • Ulangan adalah sebuah alat bantu untuk MENCERMATI gerak-gerak roh. Karena aneka gerak batin dalam doa terjadi tanpa kita sadari, ulangan memberi kesempatan pada gerak-gerak batin untuk dapat dialami lebih tajam.
  • Ulangan adalah cara kita menghormati sapaan Allah. Jika waktu doa formal sudah selesai, kita tidak boleh mengganggap bahwa Tuhan tidak akan lagi mewahyukan diriNya lagi lewat perikop yang telah kita doakan. Ulangan menghormati pewahyuan Allah karena kita kembali ke bahan yang sama sampai kita merasa Tuhan menghendaki kita mengambil bahan lain.
  • Ulangan adalah sarana untuk mengubah desolasi menjadi konsolasi. Seperti disebut di atas ulangan dipakai di tempat kita merasakan distraksi, pergulatan, ketidaknyamanan dll. Situasi negatif ini seringkali menunjukkan bahwa Roh Allah ingin berkomunikasi lebih dalam dengan kita tetapi kita menolaknya. Saat kita kembali pada pokok-pokok pengalaman ’negatif’ itu, kita kerap menemukan bahwa Roh Allah menghancurkan aneka resistensi kita dan desolasi membuka jalan pada timbulnya konsolasi; kegelapan menjadi terang; pergulatan menjadi kepasrahan.
  • Ulangan membantu kita mengalami misteri yang Illahi secara lebih dalam. Ketika Ignatius menulis: ”Pada pokok-pokok di mana aku memperoleh apa yang kukehendaki, aku akan tinggal tenang tanpa gelisah ingin melanjutkan lebih jauh lagi, sampai aku merasa puas.” (LR 76), ia menerapkannya tidak hanya untuk satu periode doa, tetapi untuk beberapa periode doa dan bahkan pada hari-hari doa. Dengan ulangan kita membiarkan misteri Allah menyentuh jati diri kita yang terdalam. Seringkali ulangan membuat doa kita makin sederhana, membuat kita menjadi makin pasif dan reseptif terhadap aktivitas Allah. Kerapkali apa yang kita mulai sebagai meditasi, lewat ulangan, akhirnya menjadi sebuah keheningan.

”Apa yang kaulakukan?” ”Oh, aku hanya memandang Tuhan dan membiarkan Ia memandangku.”
”Apa yang kaulakukan?” ”Oh, aku hanya mencintai Tuhan dan membiarkan Ia mencintaiku.”
”Apa yang kaulakukan?” ”Oh, aku hanya menikmati Tuhan dan membiarkan Ia menikmatiku.”
”Apa yang kaulakukan?” ”Oh, sungguh aku tak tahu, aku hanya  tinggal  bersamaNya  saja!”


[1] Diterjemahkan dari e-book ORIENTATIONS Vol 1: a collection of helps for prayer collected, adapted, or composed by J. Veltri, sj., Loyola House, Guelph, Ontario, Canada, N1H 6J9,